Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Peredaran Narkoba Terbesar di Indonesia adalah Sumut, Badan Pengawas Narkotika Amerika Serikat Adakan Pelatihan Investigasi Narkoba di Balige

Chahaya Simanjuntak • Sabtu, 19 Juli 2025 | 21:13 WIB

ATASE DEA, Andrew Hsia saat memberikan pelatihan investigasi Narkoba kepada 27 peserta penegak hukum Indonesia di Labersa Hotel, Balige, Jumat (18/7/2025) lalu.
ATASE DEA, Andrew Hsia saat memberikan pelatihan investigasi Narkoba kepada 27 peserta penegak hukum Indonesia di Labersa Hotel, Balige, Jumat (18/7/2025) lalu.

Batampos - Badan Pengawas Narkotika Amerika Serikat (DEA), melalui Kantor Perwakilan Jakarta, menyelenggarakan Pelatihan Investigasi Narkotika di Balige, Sumatra Utara. Pelatihan berlangsung selama tiga hari, sejak Rabu (16/7/2025) hingga Jumat (18/7/2025) kemarin.

Bukan tanpa alasan. Badan Narkotika Nasional (BNN) merilis, peredaran narkoba terbesar di Indonesia adalah di Sumatera Utara. Seluruh kawasan, kabupaten dan kota terdampak. Termasuk di Balige, Toba.

DEA melaksanakan pelatihan investigasi ini, dengan mendapat dukungan langsung dari Kantor Penegakan Hukum dan Anti Narkotika Internasional (INL) Departemen Luar Negeri AS.

Baca Juga: Disaksikan Pemilik, Polisi Bakar Narkoba Pakai Mobil Incinerator di Mapolresta Barelang

"Peredaran narkoba sangat memprihatinkan di mana pun. Dampaknya, ini merusak generasi di berbagai negara. Ini tantangan global. Jadi, pelatihan ini memberikan pemahaman menyeluruh tentang investigasi narkotika. Cakupannya bukan hanya bagi pengedar dan pengguna tapi  kepada seluruh aspek pengembangan kasus dan operasi penegakan hukum," ujar Atase DEA, Andrew Hsia kepada koran ini, Jumat, kemarin.

Kasus peredaran narkoba di Balige sendiri, juga termasuk tinggi. Bulan lalu, Polres Toba menangkap salah satu pengedar narkoba, BACP,28, warga Laguboti. Pelaku ditangkap dengan sejumlah barang bukti narkoba jenis sabu seberat 16,69 gram, di kawasan Hinalang, Balige, Kamis (19/6/2025).

Andrew menyebutkan, kolaborasi investigasi oleh para petugas sangat penting. Ini meminimalisir, terlibatnya instansi atau oknum petugas dalam penyalahgunaan jabatan saat bertugas.

Andrew Hsia merupakan pelaksana tugas Atase DEA di Indonesia.  Saat pelatihan investigasi ini, ia turut melibatkan para pelatih berpengalaman dari kantor DEA Tokyo, Jepang dan juga Bangkok, Thailand.

Sementara itu, Direktur INL Affairs dari Kedutaan Besar AS di Jakarta, Aqueelah Johnson menyebutkan, kegiatan ini bertujuan menghambat dan mencegah peredaran narkotika semakin meluas, baik di Indonesia maupun di Amerika Serikat.

"Melalui kolaborasi DEA dan INL Deplu AS, kami bangga mengadakan pelatihan investigasi ini dan berharap dapat memperkuat kerjasama bilateral AS dan Amerika dalam hal pencegahan penyebaran narkoba," ujarnya.

Baca Juga: Chelvin, Anggota Polda Riau Jadi Perantara Pengiriman Narkoba dari Dumai ke Batam

Dia menyebutkan, dengan mempertemukan aparat kepolisian, kejaksaan, bea cukai, dan imigrasi selama tiga hari pelatihan ini, dapat semakin memperkuat kemitraan penegakan hukum di Indonesia. "Semoga ini dapat meningkatkan efektivitas kita semua dalam menghadapi tantangan global ini," ungkapnya.

Pelatihan ini diikuti 27 peserta dari berbagai institusi, termasuk dari Jakarta, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), termasuk Badan Narkotika Nasional (BNN), Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kantor Bea Cukai, serta Kejaksaan Agung

Inisiatif ini merupakan bagian dari dukungan berkelanjutan DEA membangun kemitraan yang kuat dan kolaboratif dengan Indonesia.

Sejak 2021, DEA telah mengadakan lebih dari 10 pelatihan serupa di kawasan rentan peredaran narkoba. Ini merupakan bukti komitmen jangka panjang AS dalam upaya bersama memerangi perdagangan narkotika. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
#pelatihan investigasi narkotika #amerika serikat #peredaran narkoba #peredaran narkoba di Sumut #sumut #DEA #balige #deplu as