Investasi Batam Melonjak 62,75 Persen, Industri Manufaktur Teknologi Tinggi Mulai Dominan

Abdul Aziz Maulana • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 17:31 WIB
Ilustrasi chatgpt.com
Ilustrasi chatgpt.com

batampos – Arus investasi yang masuk ke Kota Batam terus menunjukkan tren positif. Sepanjang Semester I 2026, realisasi investasi mencapai Rp29,89 triliun, meningkat 62,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp18,37 triliun.

Peningkatan tersebut tidak hanya tercermin dari besarnya nilai investasi, tetapi juga diikuti bertambahnya jumlah proyek, meningkatnya penyerapan tenaga kerja, serta bergesernya struktur investasi menuju industri manufaktur berteknologi tinggi.

Kepala BP Batam yang juga Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menyebut capaian tersebut menjadi indikator semakin kuatnya kepercayaan investor terhadap Batam sebagai kawasan industri dan investasi nasional.

Baca Juga: Pemko Batam Siapkan Rp50 Miliar Bangun Taman Budaya Nyat Kadir

"Semester I 2025 realisasi investasi sebesar Rp18,37 triliun, sementara Semester I 2026 mencapai Rp29,89 triliun. Artinya ada kenaikan sekitar 62,75 persen secara year on year. Alhamdulillah," ujar Amsakar di Gedung LAM Batam, Selasa (28/7).

Jumlah Proyek dan Lapangan Kerja Meningkat

Sejalan dengan kenaikan nilai investasi, jumlah proyek yang direalisasikan juga mengalami peningkatan signifikan. Data BP Batam mencatat jumlah proyek investasi naik 32,82 persen, dari 11.915 proyek pada Semester I 2025 menjadi 15.826 proyek pada periode yang sama tahun ini.

Dari jumlah tersebut, proyek yang telah memasuki tahap produksi tumbuh lebih cepat dibandingkan proyek yang masih dalam tahap konstruksi. Proyek produksi meningkat 52,32 persen menjadi 6.932 proyek, sedangkan proyek konstruksi bertambah 20,78 persen menjadi 8.894 proyek.

Baca Juga: DED Taman Budaya Rampung November, Lelang Fisik Menyusul

Pertumbuhan investasi turut berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Selama Semester I 2026, investasi menyerap 40.423 tenaga kerja Indonesia, meningkat 32,20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara tenaga kerja asing yang bekerja pada proyek investasi tercatat sebanyak 520 orang, naik 29,35 persen.

Secara keseluruhan, investasi di Batam menciptakan 40.943 lapangan kerja, atau meningkat 32,16 persen secara tahunan.

Selain itu, rata-rata nilai investasi per proyek juga meningkat dari Rp1,54 miliar menjadi Rp1,89 miliar, atau tumbuh 22,53 persen, yang menunjukkan semakin besarnya skala investasi yang masuk ke Batam.

Struktur Investasi Bergeser

Amsakar mengatakan struktur investasi Batam kini mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya didominasi sektor jasa, kini investasi mulai bergeser ke industri manufaktur berbasis teknologi tinggi.

"Tipologi investasi 2025-2026 bergeser. Industri mesin, elektronika, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam kini berada di posisi paling tinggi. Setelah itu industri kimia dan farmasi, kemudian perumahan, kawasan industri, transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi," katanya.

Berdasarkan nilai investasi, sektor jasa lainnya masih menjadi penyumbang terbesar dengan realisasi Rp6,09 triliun, diikuti industri mesin, elektronika, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam sebesar Rp6,07 triliun.

Selanjutnya, industri kimia dan farmasi mencatat investasi Rp3,97 triliun, sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp3,52 triliun, serta transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sebesar Rp2,55 triliun.

Singapura Masih Investor Terbesar

Dari sisi asal investasi, Singapura masih menjadi negara dengan realisasi investasi terbesar di Batam, yakni Rp10,89 triliun.

Posisi berikutnya ditempati Hong Kong sebesar Rp1,39 triliun, Korea Selatan Rp1,18 triliun, Republik Rakyat Tiongkok Rp1,11 triliun, serta Amerika Serikat sebesar Rp1,02 triliun.

BP Batam Perkuat Sektor Jasa

Di balik tingginya pertumbuhan investasi, BP Batam masih mencatat perlunya penguatan daya saing sektor jasa.

Berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025, Batam memperoleh skor 4,04, dengan nilai terendah berada pada Pilar Pasar Produk, khususnya indikator persaingan sektor jasa yang hanya mencapai 2,91 dari skala lima.

Menurut Amsakar, kondisi tersebut bukan menunjukkan lemahnya sektor jasa, melainkan dipengaruhi struktur ekonomi Batam yang masih didominasi industri pengolahan. Saat ini, sektor manufaktur menyumbang 57,01 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), disusul sektor konstruksi sebesar 20,23 persen, sementara kontribusi perdagangan dan jasa masih relatif lebih kecil.

Untuk itu, BP Batam mulai mendorong penguatan sektor jasa sebagai pendukung aktivitas industri melalui pengembangan layanan logistik, jasa profesional, ekonomi digital, industri kreatif, peningkatan keterlibatan UMKM dalam rantai pasok industri, penguatan kompetensi tenaga kerja vokasi, hingga perluasan akses pembiayaan bagi UMKM dan perusahaan rintisan.

Amsakar optimistis kombinasi antara meningkatnya investasi, bertambahnya proyek yang telah berproduksi, tingginya penyerapan tenaga kerja, serta penguatan sektor jasa akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi Batam yang berkelanjutan.

"Kombinasi antara tingginya realisasi investasi, meningkatnya jumlah proyek yang masuk tahap produksi, penyerapan tenaga kerja, serta penguatan sektor jasa akan menjadi fondasi penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Batam yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan," pungkasnya. (*)

Editor : Jamil Qasim
Menlonjak investasi batam