Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Angka Pengangguran Kepri Tertinggi kedua Nasional

Putut Ariyotejo • Rabu, 22 Mei 2024 | 08:59 WIB
RATUSAN pencari kerja mengantre menyerahkan surat lamaran kerjanya di bursa kerja di SP Plaza, Tembesi, sagulung, Selasa (8/11/2022).
RATUSAN pencari kerja mengantre menyerahkan surat lamaran kerjanya di bursa kerja di SP Plaza, Tembesi, sagulung, Selasa (8/11/2022).

batampos - Badan Pusat Statistik (BPS) nasional meri-lis Provinsi Kepri menduduki posisi kedua dengan angka pengangguran terbuka nomor dua, setelah Provinsi Banten.
Anggota DPRD Kota Batam, Muhammad Mustafa, menyampai angka pengangguran terbuka di Kepri ini secara daerah turun, dibanding tahun 2023 lalu.

Berdasarkan data 2023 lalu angka pengangguran terbuka di Kepri itu mencapai 8,4 persen. Tahun ini dirilis BPS itu turun menjadi 6,9 persen.

”Bicara soal Kepri, sudah pasti Batam yang menjadi lokomotifnya. Karena Batam merupakan kota tujuan pencari kerja. Jadi wajar saja angka pengangguran terbuka di Provinsi Kepri ini tinggi,” kata dia saat dijumpai di ruangan kerjanya, Selasa (21/5).

”Skala nasional mungkin nomor dua, namun di tingkat provinsi tingkat pengangguran Kepri itu turun,” tegasnya.

Hal ini tentu menjadi perhatian dari pemerintah daerah, untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Agar angka peng-angguran bisa ditekan, meskipun Provinsi Kepri, khususnya Batam masih menjadi destinasi pencaker.

”Kalau bicara soal Kepri, sudah pasti itu Batam. Baik pertumbuhan ekonomi, maupun lainnya,” sebutnya.

Mustafa mengungkapkan upaya yang dilakukan untuk menekan angka pengangguran terbuka ini adalah menciptakan lapangan kerja. Memfasilitasi pelatihan baik daerah, maupun nasional seperti kehadiran Balai Latih Kerja (BLK).

Saat ini Batam sudah memiliki BLK yang akan segera diresmikan Juni mendatang. BLK memiliki beberapa bidang pelatihan di antaranya, pariwisata seperti lab bahasa, lab animasi, lab barista.
Selain itu, ada juga laboratorium untuk IT untuk mendukung pelatihan di bidang digitalisasi. Ke depan bidang pelatihan ini akan menyesuaikan dengan kebutuhan industri di Batam.

”Misalnya kemaritiman. Akan ada bidang pelatihan welder. Karena di Batam angka kebutuhan welder cukup tinggi, dan tenaganya tidak tersedia ba-nyak. Sehingga untuk meme-nuhi kebutuhan tersebut, harus ada pelatihan yang disediakan. Sehingga diharapkan serapan tenaga kerja tinggi, dan pengangguran terbuka itu ditekan,” bebernya.

Selain itu, melalui Peraturan Daerah Penempatan Tenaga Kerja yang baru disahkan mengatur tenaga kerja lokal lebih diprioritaskan.

”Kalau dibandingkan dari zaman Covid-19 lalu, angka pengangguran terbuka di Batam maupun Kepri cenderung turun. Ini karena faktor ekonomi yang terus membaik. Sehingga terciptanya lapangan kerja terus ada,” ujarnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam, Rudi Sakyakirti, menyampaikan tujuan BLK ini memang mempersiapkan tenaga kerja untuk memenuhi permintaan perusahaan.

”Batam kota industri, jadi memang sudah seharusnya punya BLK yang memiliki bidang pelatihan sesuai de-ngan kebutuhan industri. Jadi harapannya melalui BLK yang segera diresmikan ini Batam bisa mempersiapkan tenaga kerja yang memiliki keahlian,” terangnya.

Rudi menyampaikan, angka pencaker di Batam memang terus ada. Hal ini karena pencaker menjadikan Batam sebagai destinasi. Faktor upah yang cukup tinggi, dan banyak-nya industri menjadikan Batam terus jadi magnet.

”Kita tak boleh larang orang masuk ke Batam. Walaupun mereka soft skill tetap saja datang ke Batam. Tugas kami mempersiapkan tenaga kerja yang siap diserap perusahaan, sehingga angka pengangguran terbuka itu bisa ditekan,” terangnya.

Menurutnya angka pencari kerja di Batam terus turun. Hal ini berdasarkan data yang dirilis BPS. Keberhasilan ini tidak lepas dari investasi yang meningkat. Sehingga mendorong terciptanya lapangan pekerjaan di Batam.

”Di Kepri ini, Batam masih jadi yang paling favorit bagi pencaker. Karena memang kota industri,” tutupnya. (*)

 

Editor : Putut Ariyotejo