Di sela perayaan Imlek, ada satu tradisi sakral yang masih terawat, terkhusus bagi warga Hokien di Karimun. Ya, adalah Sembahyang Dewa Langit (Tian Gong).
Kesibukan menyiapkan menyambut ritual Sembahyang Dewa Langit di sejumlah klenteng maupun vihara di pusat pemukiman warga Hokien di Karimun, terlihat nyata. Terutama dengan memasang kembang api di titik titik yang telah ditentukan.
Bagi orang Hokien, Sembahyang Dewa Langit adalah salah satu perayaan penting dalam tradisi budaya Tionghoa. Perayaan ini biasanya dilakukan untuk menghormati Dewa Langit yang dianggap sebagai penguasa langit, dan penjaga kehidupan.
Sembahyang Dewa Langit identik dengan menyalakan kembang api/petasan, dan barongsai.
Dalam kepercayaan orang Tionghoa, Dewa Langit dianggap sebagai pelindung umat manusia. Sehingga, warga Tionghoa menghormatinya dengan mempersembahkan doa serta
persembahan. Dengan harapan, mendapatkan perlindungan, keberuntungan dan kelancaran hidup.
Secara umum, perayaan Sembahyang Dewa Langit memiliki makna spiritual yang cukup mendalam. Dimana bagi umat Hokien, kepercayaan tersebut untuk dapatkan permohonan
berkah, keselamatan dan ketenteraman bagi diri mereka, dan keluarga.
Perayaan Sembahyang Dewa Langit, juga untuk ajang mempererat hubungan keluarga, dan masyarakat. Serta menjaga tradisi budaya yang sudah ada turun temurun. (*)