Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Drainase Satu Jalur, Banjir Tak Henti

Eusebius Sara • Selasa, 20 Mei 2025 | 16:05 WIB
Petugas gabungan cek ke lapangan, melihat langsung kondisi drainase.
Petugas gabungan cek ke lapangan, melihat langsung kondisi drainase.

batampos - Di tengah hujan yang belum reda sepenuhnya, genangan air masih tersisa di beberapa ruas jalan kawasan Sagulung, Batam. Warga Kelurahan Sei Binti dan Tanjunguncang seakan sudah hapal: setiap langit menumpahkan air berjam-jam, kampung mereka berubah jadi kolam.

Puncak kekesalan itu akhirnya disuarakan. Dalam satu pertemuan dengan tim gabungan dari Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemerintah Kota Batam pekan lalu, warga meminta satu hal yang konkret: pisahkan jalur drainase permukiman dari kawasan industri.

“Selama ini air dari perumahan dipaksa lewat kawasan industri Latrade,” kata Karman, ketua RT di Tanjunguncang. “Padahal itu jalurnya terlalu dalam dan sering mampet.” Ia mengusulkan agar air langsung dialirkan ke arah laut, tanpa harus ‘berbelok’ dulu ke kompleks industri.

Dalam peninjauan lapangan, tim gabungan memang mendapati sejumlah kejanggalan. Drainase utama yang menyalurkan air dari kampung ke pesisir melintasi kawasan industri yang drainasenya tertanam dalam. Di ujung jalur—dekat area resapan air—ditemukan kerusakan yang cukup parah. Air pun tak lagi mengalir sebagaimana mestinya.

Deputi Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, tak menampik kondisi itu. “Dari belasan titik banjir yang kami lihat, pola masalahnya sama: saluran terbenam dan tak optimal,” katanya. Ia menyebut, perbaikan harus mencakup langkah jangka pendek dan perencanaan panjang.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Batam, Suhar, menyebut penelusuran lapangan sebagai upaya mencari titik temu. Ia mengakui perlunya solusi yang lebih fundamental, bukan sekadar tambal sulam. “Kita butuh desain yang matang, bukan hanya reaktif saat banjir sudah terjadi,” katanya.

Warga lain, Ridho, menyoroti pentingnya perencanaan teknis. Menurutnya, saluran air perlu dihitung ulang dari kapasitas, arah aliran, hingga kemungkinan sumbatan. “Drainase jangan lagi asal gali,” ujarnya.

Masalahnya bukan semata pada jalur, tapi pada sistem yang digabung antara kawasan industri dan permukiman. Beban air yang berbeda, karakteristik aliran yang tak sama, membuat sistem ini kerap kolaps. “Gabungin dua sistem itu sama saja seperti mencampur air sungai dan air limbah industri, yang satu lambat, yang satu deras,” ujar Karman.

Banjir yang terus berulang menimbulkan kerugian bukan hanya materi. Aktivitas warga terganggu, rumah-rumah rusak, dan kepercayaan terhadap penataan kota pun mengikis. Warga berharap, kali ini pemerintah benar-benar mendengar. Bukan hanya mencatat, lalu lupa saat air surut. (*)

Editor : Putut Ariyotejo
#drainase #banjir