Kota Batam, sebagai wilayah perdagangan aktif, kemungkinan besar tak luput dari peredaran produk bermasalah ini.
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, akan segera menindaklanjuti temuan nasional terkait dugaan pengoplosan beras premium yang dinilai merugikan masyarakat secara masif. Ada kemungkinan akan dilakukan inspeksi ke sejumlah distributor dan pasar di Batam.
“Besok kita akan jawab detail soal sembako. Nanti biar saya dapatkan informasi dulu,” katanya, Selasa (15/7).
Pernyataan ini disampaikan menyusul pengungkapan Kementerian Pertanian yang menemukan sebanyak 212 merek beras dijual tidak sesuai dengan kualitas dan label kemasan. Bahkan, lebih dari 85 persen beras yang beredar di pasaran dan diklaim sebagai beras premium, ternyata hanyalah beras biasa dengan mutu di bawah standar premium.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan, praktik ini menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat.
"Contohnya, ada volume yang mengatakan 5 kilogram, padahal hanya 4,5 kilogram. Kemudian ada 86 persen produk yang mengaku premium, padahal itu beras biasa. Satu kilogram bisa selisih Rp2.000 sampai Rp3.000,” kata Amran.
Amran memperkirakan potensi kerugian akibat praktik curang ini bisa mencapai Rp99 triliun per tahun. “Kalau ini terjadi selama lima tahun saja, kita bicara kerugian sekitar Rp500 triliun,” tambahnya.
Dari data yang dihimpun, setidaknya 10 perusahaan besar diduga kuat menjadi produsen beras oplosan, termasuk empat grup besar seperti Wilmar Group dan PT Food Station Tjipinang Jaya. Merek-merek terkenal seperti Sania, Fortune, Sovia, Ramos Premium, Setra Pulen, hingga Ayana masuk dalam daftar merek yang kualitasnya tidak sesuai label.
Wilayah distribusi beras-beras tersebut meliputi hampir seluruh Indonesia, termasuk Jabodetabek, Jawa Tengah, Sumatera, hingga Sulawesi. Meski belum disebutkan secara eksplisit apakah Batam termasuk dalam wilayah sebaran, namun sebagai kota perdagangan dan pintu gerbang logistik, kemungkinan besar beras-beras dari produsen tersebut juga telah masuk ke pasar-pasar di Batam.
Di Batam sendiri, harga beras premium memang tergolong tinggi. Kondisi ini membuat masyarakat sangat rentan dirugikan jika kualitas beras yang dibeli ternyata tidak sesuai label. (*)
Editor : Tunggul Manurung