batampos– Tekanan darah tinggi (hipertensi) dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi dua penyakit yang paling banyak diderita masyarakat Kota Batam hingga akhir Juli 2025.
Berdasarkan data dari aplikasi ePuskesmas, tercatat ada 5.202 kasus hipertensi dan lebih dari 3.800 kasus ISPA, baik yang disebabkan virus maupun bakteri.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi mengatakan, tingginya angka kasus ini menjadi perhatian serius. Pihaknya pun terus mendorong upaya promotif dan preventif melalui layanan kesehatan primer di puskesmas dan posyandu.
"Data ini menunjukkan pola penyakit masyarakat kita mulai bergeser. Penyakit tidak menular seperti hipertensi kini mendominasi, namun penyakit menular seperti ISPA juga tetap tinggi. Ini harus jadi alarm untuk kita semua agar lebih peduli terhadap gaya hidup dan lingkungan," ujar dr. Didi, Senin (28/7).
Didi menjelaskan, hipertensi dan diabetes merupakan penyakit kronis yang sangat berkaitan dengan gaya hidup tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi garam, kurang olahraga, stres, dan merokok. Penyakit ini kerap tidak menimbulkan gejala di awal, namun berisiko menyebabkan komplikasi serius seperti stroke dan gagal ginjal jika tidak dikendalikan.
“Yang paling mengkhawatirkan, banyak penderita hipertensi dan diabetes tidak menyadari kondisinya. Mereka baru tahu setelah mengalami komplikasi. Karena itu, kami dorong masyarakat untuk rutin periksa tekanan darah dan gula darah, minimal 3 bulan sekali,” katanya.
Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Kesehatan pun mengintensifkan program skrining penyakit tidak menular (PTM) melalui Puskesmas dan Posbindu PTM di lingkungan warga.
Sementara itu, penyakit menular seperti ISPA, diare, dan HIV/AIDS juga masih mencatat angka cukup tinggi. Flu biasa dan infeksi saluran pernapasan atas secara kumulatif menyumbang lebih dari 3.800 kasus. Hal ini diperparah dengan perubahan cuaca, polusi udara, serta kebiasaan masyarakat yang belum terbiasa menjaga etika batuk dan bersin.
"ISPA mudah menular, apalagi di lingkungan padat dan sirkulasi udara yang buruk. Kami imbau masyarakat mengenakan masker saat flu, rajin cuci tangan, serta menjaga kebersihan rumah," kata Didi.
Terkait HIV/AIDS, Dinkes mencatat 774 kasus pada pertengahan tahun ini. Sebagian besar kasus ditemukan melalui layanan VCT (Voluntary Counseling and Testing) di Puskesmas maupun rumah sakit.
"Ini menunjukkan pentingnya edukasi dan layanan konseling HIV yang ramah dan tidak diskriminatif. Kami akan terus perluas jangkauan pemeriksaan dan pendampingan bagi ODHA (Orang dengan HIV/AIDS)," tegasnya.
Guna menekan jumlah kasus dan mencegah komplikasi, Didi menekankan pentingnya peran aktif puskesmas sebagai garda terdepan layanan kesehatan dasar, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga kesehatan keluarga.
“Layanan kesehatan bukan hanya soal pengobatan. Edukasi, deteksi dini, dan perubahan perilaku adalah kunci. Kami minta warga lebih proaktif datang ke puskesmas, bukan menunggu sampai sakit parah,” tutup dr. Didi.
Dinas Kesehatan juga mengimbau warga untuk mengakses informasi resmi dan menghindari mitos-mitos kesehatan yang dapat menyesatkan. Pemerintah akan terus memperkuat sistem pencatatan elektronik seperti ePuskesmas agar intervensi kebijakan bisa lebih tepat sasaran berdasarkan data riil di lapangan. (*)
Editor : Tunggul Manurung