Pulau Pahat yang berada di Kecamatan Siantan Utara, Kabupaten Anambas tak hanya sekadar pulau kecil dengan hamparan pasir putih yang memanjakan mata. Ia menyimpan kisah tentang kehidupan, tentang perjuangan seekor penyu yang bermula dari sebutir telur rapuh yang tertanam di balik pasir hangat.
***
Sore itu, cahaya matahari menimpa pantai dengan lembut. Dari balik pasir, tukik-tukik mungil merangkak perlahan, meninggalkan jejak kecil yang nyaris terhapus ombak.
Di sisi mereka, wisatawan berjongkok, hati-hati melepas anak-anak penyu itu menuju lautan. Ada haru, ada kagum, perasaan yang bercampur menjadi pengalaman sederhana namun sulit dilupakan.
“Rasanya luar biasa, seperti ikut memberi kesempatan hidup pada makhluk mungil ini,” ucap Dora, wisatawan asal Tanjungpinang, saat tangannya melepas seekor tukik rapuh ke pasir, Rabu, (20/8) kemarin.
Ia menatapnya sampai menghilang ditelan ombak, seakan melepaskan doa kecil untuk kehidupan baru.
Sebelum momen itu, wisatawan diajak ke area penangkaran. Di sana, deretan kayu penanda berdiri di atas gundukan pasir.
Setiap lubang berisi telur yang dipindahkan agar lebih aman dari predator, ombak, maupun tangan-tangan serakah manusia.
“Setiap lubang ini adalah harapan,” kata Zikry, pemandu lokal, sambil menunjukkan proses pemindahan telur.
Baginya, setiap gundukan pasir bukan sekadar sarang, melainkan doa agar spesies laut yang kian terancam itu tetap bertahan.
Malam hari, pengalaman itu mencapai puncaknya. Dalam keheningan, hanya diterangi cahaya senter, seekor induk penyu hijau perlahan menggali sarang.
Pasir beterbangan, membentuk rumah baru bagi puluhan kehidupan kecil. Wisatawan menyaksikan dengan penuh hormat, sebagian menahan napas, sebagian lain tak kuasa menahan air mata.
Dora memberanikan diri menyentuh tempurung induk penyu itu. Tangannya gemetar, matanya berkaca-kaca.
“Momen ini membuat saya sadar betapa rapuhnya kehidupan laut. Kita harus menjaga mereka,” katanya pelan.
Pulau Pahat, dengan keindahan alamnya, bukan hanya tentang panorama pasir putih atau sunset yang membakar langit jingga.
Ia adalah ruang belajar tentang kepedulian, keterlibatan, dan tanggung jawab manusia terhadap alam.
Dan saat matahari benar-benar tenggelam, seorang wisatawan berjalan sendiri di tepi pantai. Siluet tubuhnya berpadu dengan langit jingga keemasan.
Ombak kecil menyapu kakinya, meninggalkan rasa dingin yang lembut, seolah alam sendiri berbisik, menjaga bumi bisa dimulai dari langkah kecil.
Dari seekor tukik yang dilepas ke laut, Pulau Pahat mengajarkan, bahwa harapan selalu bisa lahir, meski dari butiran pasir yang rapuh. (*)
Editor : Tunggul Manurung