Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Disperindag Batam Atur Strategi Tekan Harga Cabai, Kunjungi Daerah Penghasil dan Gelar Operasi Pasar

Rengga Yuliandra • Rabu, 10 September 2025 | 11:37 WIB
Harga Cabai mulai naik di sejumlah pasar tradisional di Batuaji dan Sagulung.
Harga Cabai mulai naik di sejumlah pasar tradisional di Batuaji dan Sagulung.

batampos - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam, Gustian Riau, memastikan pemerintah daerah tidak tinggal diam menghadapi lonjakan harga cabai di pasar tradisional. Dua langkah utama segera ditempuh, yakni menggelar operasi pasar dan melakukan pembelian langsung cabai dari daerah penghasil di Sumatera Utara.

“Kami akan bekerja sama dengan tiga daerah, yaitu Simalungun, Tapanuli Utara, dan Bandar Meriah. Insyaallah tanggal 18 September, Pemko Batam bersama pengusaha cabai akan ke Simalungun untuk melakukan pembelian langsung semua jenis cabai,” ujar Gustian, Selasa (9/9).

Ia menyebut, cuaca menjadi faktor dominan yang memicu kenaikan harga. Tingginya curah hujan membuat cabai cepat busuk, terutama saat proses pengiriman menuju Batam.

“Cuaca sangat berpengaruh. Kalau hujan tinggi, cabai bisa cepat rusak. Apalagi waktu tempuh ke Batam tidak sebentar,” jelasnya.

Selain menjalin kerja sama pasokan, Disperindag juga akan menggelar operasi pasar pada 15, 16, dan 17 September mendatang. Operasi pasar ini digelar di enam kecamatan yakni Batu Aji, Sagulung, Sungai Beduk, Batu Ampar, Nongsa, dan Lubuk Baja.

“Di sana akan dijual berbagai jenis sembako, termasuk cabai,” tegasnya.

Harga cabai di sejumlah pasar di Batam terus meroket sejak awal Agustus. Di Pasar Victoria, cabai merah kini dijual Rp16 ribu hingga Rp18 ribu per seperempat kilogram (Rp62 ribu–Rp70 ribu/kg), sementara cabai hijau Rp15 ribu–Rp17 ribu per seperempat kilogram (Rp60 ribu–Rp65 ribu/kg).

“Saat ini cabai yang paling tinggi naiknya, kondisi juga banyak yang busuk,” kata Leni, pedagang cabai di Pasar Victoria.

Kenaikan ini membuat pedagang berhati-hati mengambil stok.

“Kalau stok banyak takut nggak laku. Cabainya banyak basah, jadi cepat rusak. Kalau rugi kan kita juga yang susah,” ujar Dedi, pedagang lainnya.

Sementara itu, warga juga ikut merasakan beban. “Ini kan bumbu wajib. Kalau naik, jelas pengeluaran dapur juga ikut naik,” keluh Anif, warga Tanjung Riau. (*)

 

 

Editor : Ahmadi Sultan
#Harga Cabai di Batam