Keterbatasan fasilitas hiburan tak menghalangi anak-anak menemukan keceriaan dalam rutinitas sederhana.
***
Kehidupan di Kabupaten Kepulauan Anambas selalu punya cara tersendiri untuk menghangatkan hati siapa pun yang memandangnya.
Tidak ada pusat perbelanjaan megah, tidak ada taman bermain besar, tidak ada deretan fasilitas hiburan seperti di kota-kota besar.
Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan kebahagiaan lain yang jarang dijumpai di tempat lain.
Bagi masyarakat Anambas, laut bukan sekadar batas wilayah; ia adalah halaman rumah, tempat belajar, ruang bermain, sekaligus sumber kehidupan.
Ketika akhir pekan tiba, warga tidak perlu berpikir panjang mencari tempat rekreasi.
Pantai, air terjun, atau sekadar memancing dari tepian dermaga sudah menjadi rutinitas yang menghadirkan kegembiraan tersendiri.
Pemandangan itu pula yang tampak di kawasan Tanjung Momong, Desa Tarempa Timur, pada Minggu (30/11).
Matahari pagi menembus celah awan, memantulkan kilau keemasan di permukaan air laut yang tenang.
Setelah dua hari sebelumnya dihantam cuaca buruk, pagi itu terasa seperti hadiah yang lama ditunggu-tunggu.
Di antara ketenangan itu, sekelompok anak terlihat begitu bersemangat. Wajah mereka berseri, langkah mereka ringan, seolah cuaca cerah adalah tanda dimulainya petualangan kecil.
“Alhamdulillah om, laut tenang, langit pun cerah. Bisa kami main laut mancing,” ujar Randi sambil tersenyum lebar. Bocah itu membuka perbincangan dengan nada penuh syukur yang polos.
Randi tidak sendirian. Dua rekannya, Bagas dan Hairul, sudah berdiri di pinggir bebatuan, menunggu gelombang kecil mereda sebelum menarik jongkong sederhana mereka ke air. Suara tawa mereka menyatu dengan hembusan angin pesisir.
Jongkong kecil itu jauh dari kata mewah. Terbuat dari potongan drum plastik yang dibelah dua, dipadukan dengan beberapa balok kayu agar tetap mengapung stabil.
Namun bagi tiga anak itu, jongkong tersebut adalah kapal petualang yang bisa membawa mereka ke mana saja.
"Kami ya macam ini om, kalau libur sekolah mancing pakai jongkong,” kata Randi sambil menunjuk perahu kecil mereka.
Tidak ada nada mengeluh, tidak pula iri kepada anak-anak di kota lain yang mungkin menghabiskan hari libur di tempat permainan modern.
Bagi mereka, memancing bukan sekadar kegiatan pengisi waktu. Ada kebanggaan kecil ketika kail mereka disambar ikan.
“Lumayan ikan bisa kasih mamak untuk lauk di rumah,” tambahnya. Meskipun sederhana, ada makna besar yang melekat, membantu keluarga, sekecil apa pun kontribusinya.
Bagas yang sejak tadi memegang dayung pendek menimpali sambil terkekeh pelan. “Seronok om, kalau dapat ikan besar. Kita macam juara,” Matanya berbinar ketika membayangkan hasil tangkapan yang memuaskan.
Tidak ada rasa malu dalam diri mereka. Mancing dengan jongkong, berjemur di tepi pantai, atau sekadar menyelam dengan kacamata buatan sendiri adalah hal lumrah di Anambas.
Mereka tumbuh dalam budaya yang dekat dengan laut, sehingga setiap aktivitas yang berhubungan dengan air sudah menjadi bagian dari identitas.
“Dari pada kami main handphone, jenuh juga,” ujar Randi sambil mengangkat bahu.
Ia menyadari bahwa tidak banyak pilihan hiburan di sini, tapi justru keterbatasan itulah yang membuat mereka lebih sering berinteraksi dengan alam.
“Kalau nak berjalan, ya nak berjalan ke mana? Sini mana ada mall macam di Batam,” lanjutnya. Ada nada gurauan dalam ucapannya, tetapi juga kejujuran tentang realitas hidup di pulau-pulau kecil.
Di balik celetukan itu, sesungguhnya tersimpan keindahan, anak-anak ini tumbuh dengan cara yang mungkin sudah jarang ditemukan, lebih akrab dengan laut dibanding layar gawai.
Ketiganya kemudian mendorong jongkong mereka ke air. Ombak kecil menyambut, dan dalam hitungan detik, mereka sudah mengayuh perlahan menuju titik favorit untuk memancing.
Tubuh mereka tampak mungil di atas perahu rakitan itu, namun keberanian mereka seolah menyaingi luasnya lautan.
Dari kejauhan, suara mereka masih terdengar. Kadang bercanda, kadang saling mengejek karena kail tak kunjung disambar. Namun itulah bentuk kebahagiaan paling asli, tak dibuat-buat, tak dipoles.
Masyarakat sekitar sudah terbiasa melihat anak-anak seperti Randi menghabiskan waktu di laut.
Itu bagian dari pola kehidupan yang diwariskan turun-temurun. Laut adalah guru pertama bagi banyak anak di Anambas.
Ketika kota-kota besar sibuk mengejar hiburan modern, anak-anak Tanjung Momong menemukan kesenangan dari hal paling sederhana, badai mereda, langit cerah, dan kesempatan untuk kembali bermain di lautan luas.
Momen seperti ini mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka, ini adalah kebebasan kecil yang tidak ternilai. Kebebasan untuk belajar tentang alam, tentang persahabatan, dan tentang hidup.
Ketika matahari semakin tinggi, tiga anak itu masih sibuk dengan kail dan umpan mereka. Di kejauhan, jongkong sederhana itu bergerak perlahan, mengikuti irama air.
Anambas mungkin tidak memiliki pusat hiburan megah, tetapi ia memiliki sesuatu yang lebih berharga, anak-anak yang tumbuh bersama alam, dan laut yang selalu setia menjadi saksi perjalanan kecil mereka. (*)
Editor : Tunggul Manurung