batampos - Menjelang Ramadan, Bank Indonesia Perwakilan Kepulauan Riau mempercepat digitalisasi transaksi melalui QRIS guna menekan potensi peredaran uang palsu dan menjaga kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat.
Kepala Perwakilan BI Kepri, Ronny Widijarto, mengatakan optimalisasi pembayaran non-tunai melalui QRIS menjadi langkah strategis untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi transaksi.
“Supaya tidak ribet, baik pedagang maupun masyarakat sebaiknya bertransaksi secara non-tunai. Sekarang QRIS sudah sangat mudah,” ujarnya, Jumat (13/2).
Baca Juga: Li Claudia: Imlek Momentum Refleksi dan Pererat Kebersamaan di Batam
Menurutnya, penggunaan transaksi digital dapat meminimalkan potensi peredaran uang palsu yang biasanya meningkat saat perputaran uang tinggi, seperti menjelang Idulfitri.
Meski demikian, BI tetap mengingatkan masyarakat agar waspada saat bertransaksi tunai. Edukasi metode 3D—dilihat, diraba, dan diterawang—terus disosialisasikan sebagai cara sederhana mengenali keaslian uang rupiah.
Ronny menilai metode tersebut masih efektif karena tingkat kemiripan uang palsu yang ditemukan relatif rendah. Namun kewaspadaan tetap diperlukan, terutama saat pembagian tunjangan hari raya (THR) dan lonjakan belanja Lebaran.
Selain edukasi, BI Kepri juga memperkuat koordinasi dengan perbankan dan aparat penegak hukum untuk memantau potensi peredaran uang palsu. Masyarakat diimbau menukarkan uang hanya melalui jalur resmi seperti perbankan dan layanan kas keliling BI.
Deputi Kepala BI Kepri, Adidoyo Prakoso, mengungkapkan sepanjang 2025 ditemukan 1.045 lembar uang palsu di wilayah Kepri, tersebar di sejumlah daerah termasuk Tanjungpinang dan Lingga. Pecahan yang paling banyak dipalsukan adalah Rp100 ribu dan Rp50 ribu.
Menurut Adidoyo, laporan uang palsu berasal dari temuan perbankan maupun laporan masyarakat. BI menilai penguatan sistem pembayaran digital yang diimbangi peningkatan literasi masyarakat menjadi kunci menjaga keamanan sistem pembayaran selama Ramadan. (*)
Editor : Jamil Qasim