batampos – Pencemaran limbah cair berbau menyengat yang kembali terjadi di Pantai Nongsa, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, kini dalam penyelidikan aparat kepolisian. Subdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Ditreskrimsus Polda Kepulauan Riau turun tangan menelusuri sumber limbah yang diduga berasal dari aktivitas kapal.
Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Kepri, Dharma Praditya Negara, mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi dan mengumpulkan dokumentasi di lapangan.
“Kami masih melakukan penyelidikan. Saksi-saksi sudah kami mintai keterangan. Dampaknya juga sudah kami dokumentasikan semua,” ujarnya, kemarin.
Namun demikian, Dharma mengakui hingga saat ini sumber pasti limbah tersebut belum diketahui. Informasi awal memang mengarah pada aktivitas kapal yang melintas di perairan sekitar Nongsa. Akan tetapi, jenis dan identitas kapal yang diduga membuang limbah belum dapat dipastikan.
“Informasinya dari kapal-kapal. Tapi kapal apa, itu yang belum tahu. Kapal yang melintas banyak, jadi kami masih dalami,” jelasnya.
Menurutnya, kejadian serupa disebut-sebut hampir terjadi setiap tahun, terutama pada awal tahun. Meski demikian, pihaknya masih menelusuri apakah pola tersebut benar dan apa penyebab utamanya.
“Informasinya memang tiap tahun ada. Biasanya di awal tahun. Tapi sumbernya ini yang masih kita cari,” katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pantai Nongsa kembali tercemar limbah cair berwarna kehitaman dan berbau menyengat. Limbah tampak menempel di batu-batu miring di bibir pantai, sementara air laut terlihat keruh dan mengeluarkan aroma tak sedap.
Warga setempat mengeluhkan bau menyengat yang mengganggu aktivitas harian. Nelayan dan ibu rumah tangga yang biasa mencari gonggong di pesisir juga terdampak karena khawatir hasil tangkapan tercemar dan berbahaya untuk dikonsumsi.
Penyelidikan yang dilakukan Tipidter Polda Kepri kini difokuskan pada penelusuran sumber pencemaran, termasuk kemungkinan limbah dibuang di tengah laut lalu terbawa arus hingga ke pesisir Nongsa.
“Kami belum bisa menyimpulkan dari mana asalnya. Semua kemungkinan masih kami dalami,” tegas Dharma.
Pantauan Batam Pos pada Senin (2/3) pagi menunjukkan sisa limbah berwarna kehitaman masih menempel di sejumlah batu di bibir pantai. Air laut tampak keruh dengan aroma menyengat yang tercium hingga beberapa meter dari garis pantai. (*)
Editor : Jamil Qasim