batampos – Kebijakan penambahan biaya bahan bakar (fuel surcharge) sebesar Rp65 ribu pada tiket feri rute Batam–Singapura menuai sorotan. Pengamat pariwisata sekaligus mantan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Buralimar, menilai kebijakan tersebut berpotensi menghambat arus wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Batam.
Menurutnya, kenaikan biaya transportasi lintas negara sekecil apa pun tetap dapat memengaruhi minat wisatawan. Apalagi Batam selama ini sangat bergantung pada kunjungan wisatawan dari Singapura dan Malaysia yang datang melalui jalur laut.
“Ini tentu berpengaruh. Tambahan biaya seperti ini bisa berdampak pada jumlah wisman yang datang ke Batam,” kata Buralimar kepada Batam Pos, Minggu (15/3).
Ia menilai alasan penambahan biaya yang dikaitkan dengan situasi geopolitik global tidak sepenuhnya relevan. Menurutnya, konflik internasional memang dapat memengaruhi harga energi dunia, namun hingga kini harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia masih relatif stabil.
Karena itu, ia mempertanyakan dasar penetapan biaya tambahan tersebut. Menurutnya, operator pelayaran seharusnya tidak tergesa-gesa mengambil kebijakan yang langsung berdampak kepada penumpang.
“Jangan memanfaatkan perang global yang jauh di sana untuk menarik keuntungan bisnis sepihak. Sampai hari ini harga BBM di Indonesia juga belum naik. Ini yang membuat publik bertanya-tanya,” tegasnya.
Buralimar menilai kebijakan seperti ini seharusnya terlebih dahulu disosialisasikan kepada pemerintah daerah maupun masyarakat sebelum diterapkan. Tanpa komunikasi yang jelas, kebijakan tersebut justru dapat menimbulkan kebingungan bagi calon penumpang.
Ia juga mengingatkan bahwa sektor pariwisata sangat sensitif terhadap berbagai kebijakan biaya perjalanan. Bahkan, kata dia, urusan visa saja dapat memengaruhi keputusan wisatawan untuk berkunjung, apalagi jika ditambah biaya transportasi baru.
“Hal-hal kecil seperti ini bisa berdampak pada keputusan orang untuk datang. Wisatawan selalu mempertimbangkan biaya perjalanan secara keseluruhan,” ujarnya.
Buralimar juga menyinggung target kunjungan wisatawan mancanegara yang ditetapkan Pemerintah Kota Batam. Pada 2026 ini, Batam menargetkan sekitar 1,7 juta kunjungan wisman.
Menurutnya, angka tersebut sebenarnya masih bisa ditingkatkan jika berbagai faktor pendukung pariwisata dijaga, termasuk stabilitas biaya transportasi.
“Target 1,7 juta itu sebenarnya masih kecil. Batam seharusnya bisa menargetkan hingga dua juta wisatawan. Tapi kalau biaya perjalanan terus bertambah, tentu bisa memengaruhi pergerakan wisatawan,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam, Ardiwinata, menyebut penambahan biaya bahan bakar tersebut bersifat sementara. Namun Buralimar mempertanyakan alasan kebijakan itu jika memang hanya berlaku dalam waktu singkat.
“Kalau memang sementara, kenapa harus dinaikkan. Tanpa tambahan itu juga sebenarnya tidak akan merugikan operator dalam jangka pendek,” tegasnya.
Sebagaimana diketahui, operator feri internasional di Batam mulai memberlakukan fuel surcharge sebesar Rp65 ribu bagi penumpang yang berangkat dari Batam menuju Singapura. Sementara penumpang yang berangkat dari Singapura menuju Batam dikenakan biaya tambahan sebesar 6 dolar Singapura atau sekitar Rp79 ribu.
Dengan kebijakan tersebut, harga tiket feri rute Batam–Singapura yang sebelumnya sekitar Rp730 ribu kini bertambah Rp65 ribu sebagai biaya tambahan bahan bakar.
Meski secara nominal relatif kecil, perubahan biaya perjalanan dinilai tetap dapat memengaruhi arus kunjungan wisatawan ke Batam yang selama ini sangat bergantung pada mobilitas wisatawan lintas negara. (*)
Editor : Jamil Qasim