batampos – Serangan militer Israel kembali mengguncang Lebanon selatan. Sedikitnya 18 orang dilaporkan tewas dalam rangkaian serangan udara yang terjadi pada Sabtu waktu setempat, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.
Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (14/4), serangan ini menjadi bagian dari eskalasi konflik yang terus memanas di kawasan perbatasan Lebanon–Israel.
Serangan paling mematikan terjadi di sebuah desa dekat Sidon yang menewaskan sedikitnya delapan orang. Sementara itu, sembilan warga lainnya mengalami luka-luka, memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Di distrik Nabatieh, serangan udara lain menewaskan sedikitnya 10 orang. Tragisnya, tiga di antaranya merupakan petugas layanan darurat yang tengah menjalankan tugas. Serangan terhadap tenaga penyelamat ini memicu kecaman luas dari berbagai pihak.
Secara keseluruhan, korban jiwa akibat konflik yang meningkat sejak 2 Maret telah melampaui 2.000 orang. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 2.020 orang tewas dan lebih dari 6.400 lainnya terluka.
Konflik ini melibatkan kelompok Hezbollah yang didukung Iran dalam serangan terhadap Israel. Rentetan roket yang diluncurkan kelompok tersebut memicu respons militer besar-besaran dari Israel, yang kini berkembang menjadi konflik terbuka di wilayah perbatasan Lebanon selatan.
Di pihak Israel, dua tentara dilaporkan mengalami luka-luka dalam bentrokan terbaru. Hal ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya menelan korban di satu pihak.
Upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan terus diupayakan. Amerika Serikat disebut tengah memfasilitasi pertemuan antara Lebanon dan Israel guna membahas kemungkinan gencatan senjata. Namun hingga kini, serangan masih berlangsung tanpa tanda-tanda mereda. (*)
Editor : Jamil QasimSumber : Jawa Pos