Batampos - Sebanyak 399 tentara Amerika Serikat (AS) terluka dalam perang Iran sejak Presiden Donald Trump, mengumumkan operasi militer besar terhadap Iran, 28 Februari 2026 lalu.
Jumlah ini meningkat dibanding sebelumnya, sebagian disebabkan laporan tertunda terkait cedera otak traumatis yang gejalanya baru muncul beberapa hari setelah kejadian.
Dari jumlah tersebut, tiga personel dilaporkan mengalami luka serius, sementara 354 lainnya telah kembali bertugas.
Ketegangan yang terus meningkat di kawasan ini menimbulkan kekhawatiran global, terutama terkait stabilitas energi dan potensi meluasnya konflik berskala lebih besar.
Seperti diketahui, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel menargetkan sejumlah fasilitas militer dan pemerintahan Iran, memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah hingga kini.
Dalam pernyataannya, Trump menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz. Jika tidak dipenuhi, Iran diancam akan menghadapi serangan luas terhadap infrastruktur vitalnya.
Baca Juga: Sebanyak 3.832 Penumpang KM Tidar Padati Pelabuhan Sei Kolak di Kijang
Menjelang tenggat berakhir, Trump sempat menyetujui penundaan serangan selama dua pekan, dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz. Namun, perundingan lanjutan antara AS dan Iran di Pakistan gagal mencapai kesepakatan damai.
Trump menyebut program nuklir Iran sebagai hambatan utama dalam negosiasi. Ia kemudian mengumumkan AS akan memberlakukan blokade di Selat Hormuz mulai Senin mendatang, sekitar pukul 10.00 waktu setempat.
Sementara itu, konflik juga meluas ke Lebanon. Israel terus melancarkan operasi darat dan serangan intensif terhadap milisi Hezbollah yang didukung Iran.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan mendukung gencatan senjata dengan Iran. Namun, ia menegaskan wilayah Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut, meskipun mendapat protes dari Iran. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak