batampos - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengungkapkan bahwa dirinya sempat didiagnosis kanker prostat stadium awal dan telah menjalani pengobatan intensif.
Netanyahu menyebut kondisi kesehatannya kini telah pulih sepenuhnya setelah pengobatan berhasil menghilangkan tumor. Pengumuman ini menambah daftar tantangan yang dihadapi Netanyahu, terutama di tengah tekanan politik yang semakin meningkat menjelang pemilu 2026.
Netanyahu mengakui sempat menunda pengumuman penyakitnya selama sekitar dua bulan. Langkah itu dilakukan untuk mencegah pihak lawan, khususnya Iran.
Ia tidak ingin informasi digunakan sebagai propaganda di tengah konflik yang sedang berlangsung. Tekanan terhadap Netanyahu justru datang dari faktor politik.
Laporan menyebutkan meningkatnya kritik publik terhadap kepemimpinannya, terutama terkait konflik regional yang melibatkan Iran, Gaza, dan Lebanon. Isu transparansi kesehatan juga menjadi sorotan oposisi.
Situasi politik Israel semakin memanas menjelang pemilu legislatif yang dijadwalkan paling lambat Oktober 2026.
Pemilu dipandang sebagai penentu masa depan kekuasaan Netanyahu setelah bertahun - tahun mendominasi politik Israel.
Dua tokoh besar oposisi, Naftali Bennett dan Yair Lapid, membentuk aliansi baru untuk mengalahkan Netanyahu di pemilu 2026.
Koalisi tersebut berpotensi menggabungkan kekuatan politik yang cukup besar untuk menyaingi blok Netanyahu.
Namun, kepercayaan terhadap pemerintahan Benjamin Netanyahu merosot tajam setelah serangan mematikan Hamas pada 2023.
Ia kemudian menghabiskan dua tahun dengan melancarkan kampanye balasan yang sengit terhadap Hamas dan sekutunya.
Israel mencatat sejumlah keberhasilan militer terhadap Iran dan kelompok proksinya di Lebanon. Pencapaian tersebut tampaknya tidak memberikan keuntungan politik bagi Netanyahu secara pribadi.(*)
Editor : Juliana Belence