batampos - Iran mengusulkan pembukaan Selat Hormuz serta pengakhiran konflik sebagai langkah awal, dengan perundingan nuklir ditunda ke tahap berikutnya. Usulan tersebut dilaporkan media Axios, Ahad.
Proposal itu disampaikan kepada Amerika Serikat melalui pihak penengah, termasuk Pakistan, di tengah kebuntuan diplomatik terkait program nuklir Iran.
Sumber menyebutkan, rencana tersebut bertujuan memecah kebuntuan dalam isu pengayaan uranium, sekaligus mempercepat kesepakatan pembukaan blokade dan pemulihan jalur pelayaran di kawasan Teluk.
Dalam usulan itu, Iran menawarkan perpanjangan gencatan senjata, bahkan hingga permanen. Sementara pembahasan mengenai program nuklir akan dilakukan setelah Selat Hormuz dibuka dan pembatasan dicabut.
Seorang pejabat AS menyatakan bahwa Gedung Putih telah menerima proposal tersebut, meski belum memberikan sinyal apakah akan menindaklanjutinya.
Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menggelar rapat dengan pejabat keamanan senior pada Senin untuk membahas langkah menghadapi kebuntuan ini.
Trump sebelumnya menyatakan ingin mempertahankan blokade laut terhadap Iran guna meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
“Ketika Anda punya minyak yang sangat banyak, dan salurannya ditutup, tekanan akan muncul dari dalam,” ujarnya.
Di sisi lain, upaya diplomatik terus berlangsung intensif. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melakukan pembicaraan dengan mitra di Islamabad dan Muscat, Oman, terkait situasi di Selat Hormuz.
Araghchi juga dijadwalkan bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin, di St. Petersburg untuk membahas perkembangan terbaru.
Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menyebut proses ini sebagai diplomasi yang sensitif, seraya menegaskan posisi tawar AS masih sangat kuat.
Sebelumnya, AS dan Iran telah menggelar perundingan tahap awal di Islamabad pada 11–12 April, namun belum menghasilkan kesepakatan. Negosiasi itu berlangsung setelah tercapainya gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan.
Meski berbagai pihak terus mendorong kelanjutan dialog, sejumlah isu krusial masih menjadi hambatan, termasuk pembukaan Selat Hormuz, blokade AS terhadap pelabuhan Iran, serta hak Iran dalam pengayaan uranium. (*)
Editor : Jamil Qasim