batampos - Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) melaporkan bahwa 4 Mei menjadi hari dengan intensitas baku tembak tertinggi antara militer Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon sejak dimulainya gencatan senjata pada 17 April lalu.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan bentrokan tersebut melibatkan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan sejumlah kelompok bersenjata, termasuk Hizbullah.
“UNIFIL melaporkan bahwa kemarin terjadi jumlah baku tembak tertinggi antara IDF dan kelompok bersenjata, termasuk Hizbullah, sejak pertempuran dihentikan pada 17 April,” ujar Dujarric kepada wartawan, Selasa.
Menurut laporan UNIFIL, pihaknya mencatat 619 peluncuran oleh IDF yang berdampak di wilayah Lebanon, serta 30 peluncuran ke arah sasaran di Israel.
PBB pun mendesak seluruh pihak untuk menahan diri secara maksimal dan tetap mematuhi kesepakatan gencatan senjata.
Sebelumnya, pada 16 April, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sepakat memulai gencatan senjata selama 10 hari.
Kesepakatan itu kemudian diperpanjang selama tiga pekan.
Namun meski gencatan senjata berlaku, Israel dilaporkan masih terus melancarkan serangan udara dan artileri hampir setiap hari ke Lebanon selatan.
Sebagai balasan, Hizbullah juga melakukan serangan terhadap pasukan Israel di wilayah perbatasan.
Lonjakan bentrokan ini menunjukkan situasi keamanan di perbatasan Israel-Lebanon masih sangat rapuh dan berpotensi kembali memicu konflik terbuka jika tidak ada upaya penahanan diri dari kedua belah pihak. (*)
Editor : Jamil Qasim