batampos - Pendakian ke Gunung Everest selama ini identik dengan prestise dan pencapaian luar biasa. Namun, tersimpan kenyataan pahit adanya ratusan jenazah pendaki masih tertinggal di sepanjang jalur menuju puncak tertinggi dunia tersebut.
Kondisi ekstrem membuat banyak tubuh korban tidak dapat dievakuasi dan tetap berada di lokasi selama bertahun - tahun.
Sekitar 200 jenazah masih berada di gunung membeku di sepanjang jalur pendakian. Kondisi ini menjadikan Everest sering disebut sebagai kuburan terbuka terbesar di dunia.
Banyak jenazah bahkan tetap terlihat dan dikenal oleh para pendaki. Beberapa menjadi penanda jalur menuju puncak karena posisinya yang tidak berubah selama bertahun - tahun akibat suhu ekstrem.
Alasan utamanya adalah medan yang sangat berbahaya. Wilayah death zone berada di atas 8.000 meter dengan oksigen sangat tipis, cuaca ekstrem, angin kencang, dan suhu yang membekukan.
Baca Juga: Korea Selatan Bikin Lomba Tidur Siang, Cara Unik Lawan Budaya Kerja Ekstrem
Penurunan satu jenazah bisa memakan banyak orang, perlengkapan, dan waktu berhari - hari. Proses sangat mahal dan berisiko.
Proses menurunkan jenazah dari Everest bukan hanya sulit, tetapi sangat berbahaya. Dalam beberapa kasus, tim penyelamat harus mempertaruhkan nyawa mereka sendiri untuk mengevakuasi satu tubuh.
Biaya evakuasi bisa mencapai puluhan ribu dolar, sehingga tidak semua keluarga mampu melakukannya. Di Nepal, pemerintah dan militer sesekali memang menggelar misi evakuasi atau pembersihan.
Nepali Army beberapa kali mengirim ekspedisi untuk mengangkat jenazah dan sampah dari Everest. Pada 2019, empat jenazah berhasil diturunkan akhirnya masih menunggu identifikasi keluarga di Kathmandu.
Namun, upaya ini sangat terbatas karena risiko tinggi dan kondisi ekstrem di ketinggian.(*)
Editor : Juliana Belence