batampos - Sebuah kota kecil di Australia Barat pernah dipenuhi pekerja tambang dan keluarga mereka yang hidup normal di tengah gurun terpencil.
Kota bernama Wittenoom itu justru dikenal dunia sebagai salah satu kawasan paling beracun akibat paparan asbes mematikan yang diduga telah menewaskan ribuan orang.
Tambang asbes di Wittenoom mulai beroperasi pada tahun 1943. Berkembang pesat selama dua dekade berikutnya. Namun, tanpa perlindungan kesehatan memadai, debu asbes menyebar ke seluruh wilayah kota.
Jalanan, taman bermain, dan halaman rumah dilapisi limbah asbes yang saat itu belum dipahami bahayanya.
Beberapa mantan warga mengenang bagaimana mereka menghirup debu beracun setiap hari tanpa menyadari dampak fatal. Penyakit akibat asbes seperti mesothelioma dan kanker paru - paru baru muncul puluhan tahun kemudian.
Baca Juga: Perang Iran Picu Krisis Tinta, Snack Calbee di Jepang Berkemasan Monokrom
"Lebih dari 2.000 mantan pekerja dan warga telah meninggal akibat penyakit asbes," tulis data Asbestos Diseases Society of Australia, dikutip dari Asbestos Diseases Society of Australia, Senin (25/5).
Namun, sejumlah peneliti dan aktivis memperkirakan total korban sebenarnya jauh lebih besar dan mendekati 4.000 jiwa, termasuk pekerja migran, keluarga, dan kasus yang tidak tercatat secara resmi.
Tragedi tersebut dianggap sebagai salah satu kegagalan industri terbesar di Australia. Penelitian dari The University of Western Australia menunjukkan ribuan pekerja tambang terus dipantau karena tingginya angka kematian akibat paparan asbes biru.
Pada 2007, pemerintah Australia Barat resmi menghapus nama Wittenoom dari peta karena tingkat kontaminasi dianggap sangat berbahaya.
Jutaan ton limbah asbes masih tertinggal di kawasan yang menjadikannya salah satu lokasi paling tercemar di belahan bumi selatan.
Pada 2026, kelompok masyarakat adat Banjima menggugat pemerintah Australia Barat senilai US$1,5 miliar karena dianggap gagal membersihkan limbah beracun yang tersisa di wilayah tersebut.(*)
Editor : Juliana Belence