Batampos – Pertemuan antara Presiden China, Xi Jinping, dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, memunculkan perhatian internasional setelah kedua negara tidak secara terbuka menyinggung program nuklir Pyongyang.
Baik pernyataan Kementerian Luar Negeri China maupun laporan media pemerintah Korea Utara mengenai pertemuan tersebut tidak menyebut isu nuklir yang selama ini menjadi sorotan dunia.
Padahal, sebelumnya Gedung Putih menyatakan bahwa Xi dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menegaskan komitmen terhadap denuklirisasi Korea Utara dalam pertemuan mereka di Beijing pada pertengahan Mei lalu.
Baca Juga: Penataan Taman Gurindam 12 Segera Dimulai, Ratusan Pedagang UMKM Akan Direlokasi
Di tengah absennya pembahasan publik mengenai nuklir, China justru mengisyaratkan peningkatan kerja sama dengan Korea Utara di bidang militer.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan Beijing siap memperluas pertukaran dengan Pyongyang dalam bidang diplomasi, penegakan hukum, militer, dan berbagai sektor lainnya.
Pernyataan tersebut menarik perhatian pengamat. Profesor ilmu politik dari Gyeongsang National University, Park Jong Chol, menilai sikap China yang mendukung denuklirisasi kemungkinan tidak berubah, meski ada peluang kedua negara telah mencapai pemahaman baru terkait program nuklir Korea Utara.
Menurut Park, salah satu kemungkinan adalah China tidak akan menentang senjata nuklir yang telah dimiliki Korea Utara, sementara Pyongyang menghentikan produksi arsenal nuklir baru. Namun, ia menegaskan bahwa perkembangan tersebut masih perlu diamati lebih lanjut.
Baca Juga: Tak Bangun Usaha Scam Online, Warga Kepri yang Pulang dari Kamboja Bakal Dilacak
Park juga menilai usulan peningkatan pertukaran militer antara kedua negara merupakan perkembangan yang cukup mengejutkan.
Seorang pejabat Kementerian Unifikasi Korea Selatan bahkan menyebut ini sebagai pertama kalinya kerja sama militer China-Korea Utara disebut secara terbuka sejak Kim Jong Un mengambil alih kepemimpinan setelah wafatnya ayahnya, Kim Jong Il, pada 2011.
Laporan KCNA juga menyebut Menteri Pertahanan China, Dong Jun, termasuk dalam rombongan pejabat senior yang mendampingi Xi selama kunjungan ke Pyongyang.
Penguatan hubungan ini terjadi ketika China dan Korea Utara berupaya mempererat kembali hubungan bilateral di tengah perubahan dinamika geopolitik kawasan, termasuk meningkatnya kerja sama militer Pyongyang dengan Rusia dalam konflik Ukraina. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak