Batampos -Menteri Ekonomi Lebanon, Amer Bisat mengatakan, konflik dengan Israel telah menimbulkan kerugian sekitar 20 miliar dolar AS (Rp355,5 triliun) pada perekonomian negaranya.
"Perang telah menyebabkan kerusakan yang meluas, terutama di bagian selatan negara ini. Kerugian diperkirakan sekitar 20 miliar dolar AS," ujar Bisat seperti dikutip dari Antara, Sabtu (13/6/2026).
Selain kerusakan langsung, perekonomian juga mengalami kerugian tidak langsung yang signifikan, tambahnya.
Baca Juga: Pelatih Skotlandia Minta Timnya Waspadai Haiti di Laga Piala Dunia 2026
Dia mengemukakan bahwa volume ekonomi Lebanon hampir berkurang setengahnya dibandingkan periode sebelum krisis, dari 55-57 miliar dolar AS menjadi sekitar 32 miliar dolar AS (Rp568,9 triliun).
Akibat perang, perusahaan dan pabrik ditutup, sekitar 28 persen lahan pertanian benar-benar berhenti berproduksi, dan sektor pariwisata mengalami pukulan serius, tambah Bisat.
Kerugian yang dialami industri pariwisata di Lebanon saja diperkirakan sekitar dua miliar dolar AS (Rp35,5 triliun), yang setara dengan sekitar tujuh persen dari PDB negara tersebut, papar menteri tersebut.
Sebelumnya pada 2 Maret, kelompok gerakan perjuangan Hizbullah memulai serangan roket dan drone terhadap Israel di tengah perang AS dan Israel melawan Iran.
Baca Juga: Dukung Pertumbuhan Ekonomi, Indonesia Bakal Kembangkan Desa Kreatif
Sebagai tanggapan, Israel melakukan serangan udara besar-besaran terhadap target Hizbullah di pinggiran selatan Beirut, serta di Lebanon selatan dan timur, dan melancarkan operasi darat di selatan negara itu.
Kemudian pada 16 April, pembicaraan yang dimediasi AS menghasilkan kesepakatan gencatan senjata, meskipun Israel terus melakukan serangan harian terhadap puluhan permukiman di Lebanon selatan.
Hizbullah membalas dengan serangan terhadap pasukan Zionis Israel. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak