batampos – Wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo terus menunjukkan peningkatan. Hingga Minggu (21/6/2026), jumlah kasus terkonfirmasi telah menembus angka 1.000 dengan total korban meninggal mencapai 254 orang.
Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo melaporkan bahwa sejak wabah diumumkan pada 15 Mei 2026, jumlah kasus yang terkonfirmasi telah mencapai 1.003 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 254 pasien meninggal dunia, sehingga tingkat kematian tercatat sekitar 25,3 persen.
Meski angka kasus terus bertambah, pemerintah menegaskan berbagai langkah pengendalian wabah masih terus dilakukan di wilayah terdampak.
"Tim tanggap darurat terus melakukan investigasi aktif, pengawasan epidemiologi, serta langkah-langkah pencegahan di daerah yang terdampak," demikian pernyataan Kementerian Kesehatan Kongo.
Menteri Kesehatan Kongo, Roger Kamba, mengatakan upaya penanganan wabah difokuskan di sejumlah wilayah yang menjadi pusat penyebaran, yakni Provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan.
Menurutnya, perkembangan positif mulai terlihat dari meningkatnya jumlah pasien yang berhasil sembuh. Hingga saat ini, sedikitnya 100 pasien telah dinyatakan pulih dari infeksi Ebola. Sementara itu, sebanyak 365 pasien lainnya masih menjalani isolasi maupun perawatan di fasilitas kesehatan.
Berpotensi Jadi Wabah Besar
Pekan lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) memperingatkan bahwa wabah Ebola di Kongo berpotensi berkembang menjadi krisis kesehatan yang lebih besar apabila penyebarannya tidak segera dikendalikan.
Lembaga tersebut bahkan membandingkan situasi saat ini dengan epidemi Ebola Afrika Barat pada 2014–2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 orang di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.
Meski demikian, pemerintah Kongo menegaskan berbagai upaya pencegahan terus diperkuat, mulai dari edukasi masyarakat, peningkatan kapasitas diagnosis, hingga percepatan penanganan pasien untuk menekan laju penularan.
Diduga Berasal dari Penularan Baru Satwa Liar
Sejumlah ilmuwan dari Departemen Laboratorium Kesehatan Nasional Uganda bersama Institut Penelitian Biomedis Nasional Kongo mengungkapkan bahwa virus yang saat ini menyebar merupakan galur Ebola Bundibugyo.
Berdasarkan hasil penelitian terbaru, galur tersebut diduga berasal dari penularan baru yang bersumber dari satwa liar, bukan kelanjutan dari wabah lama yang sebelumnya pernah terjadi.
Temuan itu sekaligus menepis dugaan bahwa virus yang beredar saat ini merupakan sisa penularan tersembunyi dari wabah Ebola sebelumnya yang tidak terdeteksi.
Pemerintah Kongo bersama organisasi kesehatan internasional kini terus memperkuat pengawasan dan respons cepat guna mencegah penyebaran wabah ke wilayah yang lebih luas. (*)
Editor : Jamil Qasim