Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Dampak Perang Iran Menghantam AS, Ekonomi Tertekan dan Dukungan untuk Trump Melemah

Juliana Belence • Selasa, 23 Juni 2026 | 10:15 WIB
Dampak perang Amerika Serikat-Iran menghantam ekonomi. (x.com/SprinterPress)
Dampak perang Amerika Serikat-Iran menghantam ekonomi. (x.com/SprinterPress)

batampos - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir mulai menimbulkan konsekuensi besar bagi Amerika Serikat.

Perang tersebut memicu tekanan terhadap ekonomi domestik, mulai dari lonjakan harga energi hingga meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap biaya hidup.

Gangguan pasokan minyak global akibat konflik sempat tersendatnya arus pengiriman melalui Selat Hormuz mendorong pemerintah AS menggelontorkan cadangan minyak strategis dalam jumlah besar demi menstabilkan pasar. 

Departemen Energi AS mengumumkan pelepasan dan peminjaman jutaan barel minyak sebagai langkah stabilisasi pasar setelah perang dengan Iran mengguncang pasokan global. Sejumlah analis memperingatkan bahwa jika pasokan minyak kembali terganggu yang berpotensi melonjak hingga US$135 per barel.

"Pinjaman 500 ribu barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) kepada perusahaan energi vitol," ujar Departemen Energi AS, dikutip dari Reuters, Selasa (23/6).

Baca Juga: Hubungan Trump-Netanyahu Retak? AS Mulai Dekati Tokoh Oposisi Israel

Kebijakan ini merupakan bagian dari program yang lebih besar setelah pemerintah Donald Trump menyetujui pelepasan sekitar 172 juta barel minyak sejak konflik dengan Iran pecah pada akhir Februari 2026. 

Sekitar 133 juta barel telah dikontrak untuk membantu meredam gejolak harga energi. Persediaan minyak di SPR dilaporkan turun ke sekitar 331 juta barel dengan level terendah sejak 1983. 

Kondisi tersebut mencerminkan besarnya sumber daya yang harus dikeluarkan AS untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik selama konflik berlangsung. Sejumlah survei menunjukkan mayoritas warga Amerika tidak puas dengan penanganan konflik. 

Survei Reuters/Ipsos sebelumnya menemukan hanya sekitar 34% responden yang menyetujui kebijakan AS dalam konflik Iran, sementara kekhawatiran terhadap kenaikan biaya hidup akibat perang terus meningkat.

78% warga Amerika Serikat menginginkan konflik segera diakhiri. Banyak responden juga meragukan bahwa tujuan utama Amerika Serikat, termasuk menghentikan program nuklir Iran benar - benar telah tercapai.

63% warga Amerika Serikat tidak puas dengan cara Trump menangani ekonomi. Sekitar dua pertiga responden menilai negosiasi pemerintahannya dengan Iran tidak efektif.

Situasi tersebut membuat posisi politik Trump semakin rumit menjelang agenda politik berikutnya. pemerintahannya berhasil mencapai kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari dengan Iran dan membuka kembali Selat Hormuz. 

Namun di sisi lain, perang yang berlangsung selama berbulan - bulan telah meninggalkan dampak ekonomi yang signifikan serta memicu keraguan publik mengenai manfaat yang diperoleh Amerika dari konflik.(*)

Editor : Juliana Belence
#dampak #amerika serikat #ekonomi #donald trump #iran