batampos – Pertumbuhan pesat industri kecerdasan buatan (AI) yang mendorong pembangunan pusat data di berbagai negara kini menghadapi tantangan serius akibat perubahan iklim. Sebuah studi terbaru mengungkap hampir 80 persen kapasitas pusat data global berada di wilayah dengan risiko tinggi terhadap bencana iklim.
Laporan yang dirilis perusahaan analisis risiko iklim First Street menunjukkan infrastruktur digital yang menjadi tulang punggung layanan AI dan komputasi awan semakin rentan terhadap ancaman banjir, kebakaran hutan, gelombang panas, kekeringan, hingga angin ekstrem.
Temuan tersebut menimbulkan kekhawatiran baru bagi industri teknologi global yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami lonjakan investasi dari perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon, Microsoft, Google, Meta, serta berbagai perusahaan teknologi di Amerika Serikat dan Tiongkok.
Baca Juga: Swiss Taklukkan Kanada 2-1, Rossocrociati Lolos ke 32 Besar sebagai Juara Grup B
Menurut laporan yang dikutip dari The Guardian, risiko iklim tidak hanya mengancam keberlangsungan operasional pusat data, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya perawatan, premi asuransi, serta risiko gangguan layanan digital dalam skala luas.
Kepala Ekonom First Street, Jeremy Porter, mengatakan lokasi pembangunan pusat data akan menentukan sebagian besar biaya operasional selama dua hingga tiga dekade mendatang.
“Lokasi pembangunan pusat data menentukan sebagian besar biaya operasionalnya selama 20 hingga 30 tahun ke depan. Iklim menjadi faktor penting karena kebutuhan pendinginan, air, dan keandalan sistem sangat bergantung pada lokasi,” ujarnya.
Porter menilai banyak pelaku industri masih lebih fokus pada potensi pertumbuhan bisnis dibanding mempertimbangkan risiko iklim jangka panjang.
Selain ancaman bencana mendadak, laporan tersebut juga menemukan sekitar 54 persen pasar pusat data dunia menghadapi risiko kronis berupa panas ekstrem dan kekeringan berkepanjangan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan konsumsi energi untuk pendinginan sekaligus membebani ketersediaan sumber daya air.
Pendiri sekaligus CEO First Street, Matthew Eby, mengatakan pendekatan penilaian risiko yang selama ini digunakan industri sudah tidak lagi memadai karena hanya mengandalkan data historis.
“Iklim saat ini tidak lagi berperilaku seperti yang diprediksi oleh catatan masa lalu. Ketika gelombang panas, kekeringan, dan tekanan terhadap sumber daya air meningkat, model lama tidak lagi memberikan gambaran risiko yang utuh,” katanya.
Penelitian yang mencakup 97 pasar pusat data global menunjukkan kawasan Amerika menjadi wilayah dengan tingkat kerentanan tertinggi terhadap banjir, kebakaran hutan, dan angin ekstrem. Sebanyak 86 persen kapasitas pusat data di kawasan tersebut berada dalam kategori berisiko tinggi.
Sementara itu, kawasan Asia-Pasifik menjadi wilayah yang paling rentan terhadap panas ekstrem dan kekeringan. Sekitar 89 persen kapasitas pusat data di kawasan ini menghadapi ancaman tersebut, jauh lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat maupun kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika.
Laporan tersebut juga menyoroti sejumlah pusat pertumbuhan industri data center yang berkembang pesat namun memiliki risiko iklim tinggi, seperti Virginia Utara, Atlanta, Carolina, New York-New Jersey di Amerika Serikat, serta Johor di Malaysia dan Marseille di Prancis.
Sebaliknya, kawasan dengan risiko iklim relatif rendah seperti Helsinki di Finlandia justru tidak mengalami pertumbuhan pembangunan pusat data secepat wilayah lain.
First Street menyimpulkan bahwa sebagian besar investasi pusat data berskala besar justru mengalir ke wilayah yang menghadapi tantangan operasional paling berat akibat perubahan iklim.
Temuan ini memperkuat berbagai penelitian sebelumnya yang menyebut pusat data tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca global, tetapi juga semakin rentan terhadap dampak perubahan iklim yang turut dipicu oleh tingginya konsumsi energi sektor tersebut.
Para peneliti mengingatkan bahwa gangguan pada pusat data dapat berdampak luas terhadap layanan digital yang digunakan masyarakat dan dunia usaha, sekaligus meningkatkan persaingan penggunaan listrik dan air dengan komunitas lokal yang telah menghadapi tekanan akibat perubahan iklim. (*)
Editor : Jamil Qasim