Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Ancaman Kabut Asap Meningkat, Singapura Siaga Hadapi Haze Kiriman dari Indonesia pada 2026

Juliana Belence • Minggu, 28 Juni 2026 | 10:15 WIB
Singapura siaga menghadapi bencana kiriman. (Freepik)
Singapura siaga menghadapi bencana kiriman. (Freepik)

batampos - Singapura meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kabut asap lintas batas yang diperkirakan kembali melanda kawasan Asia Tenggara pada musim kemarau 2026.

Risiko tersebut diprediksi meningkat seiring kombinasi cuaca yang lebih kering, ancaman kebakaran hutan dan lahan, serta perubahan iklim yang memengaruhi pola curah hujan.

Laporan terbaru bahkan menempatkan potensi haze tahun ini pada level kewaspadaan tertinggi. 

Peringatan disampaikan Singapore Institute of International Affairs (SIIA) melalui laporan Haze Outlook 2026 yang memberikan status risiko "Red" (Code Red) atau tingkat kewaspadaan tertinggi terhadap kemungkinan terjadinya kabut asap lintas batas. 

Ini merupakan kali kedua lembaga mengeluarkan peringatan tertinggi sejak laporan tahunanditerbitkan pada 2019.

Baca Juga: Pesawat Kecil Tabrak Gedung CITIC di Beijing, 1 Orang Tewas

"Periode Agustus hingga September 2026 sebagai masa paling rawan.Risiko meningkat karena kemunculan fenomena El Niño yang diperkirakan membawa cuaca lebih panas dan kering ditambah potensi Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang dapat semakin mengurangi curah hujan di kawasan Asia Tenggara," tulis laporan Singapore Institute of International Affairs (SIIA), dikutip dari Channel News Asia, Minggu (28/6).

Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan peluang terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut di sejumlah wilayah, termasuk Indonesia. 

Jika kebakaran terjadi dan arah angin mengarah ke utara, asap berpotensi terbawa ke Singapura sehingga menurunkan kualitas udara di negara kota.

"kKerja sama regional, pendanaan yang memadai, serta penerapan praktik pengelolaan lahan berkelanjutan menjadi kunci untuk mencegah kabut asap meluas ke negara - negara tetangga," ujar Ketua SIIA, Simon Tay, dikutip dari siiaonline.

SIIA juga menyoroti meningkatnya permintaan komoditas pertanian dan biofuel. Menurut lembaga itu, tekanan ekonomi dapat mendorong sebagian pelaku usaha memperluas lahan dengan metode yang lebih murah, termasuk pembakaran apabila pengawasan tidak diperketat. 

Tekanan terhadap anggaran penanganan kebakaran di Indonesia juga disebut menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.

Laporan tersebut juga menilai musim kemarau 2026 akan menjadi ujian bagi kesiapan negara - negara ASEAN dalam mencegah kebakaran hutan. 

Peran ASEAN Coordinating Centre for Transboundary Haze Pollution Control dan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) dinilai penting dalam memperkuat koordinasi, pemantauan titik api, serta mitigasi kabut asap lintas batas.(*)

Editor : Juliana Belence
#kabut #potensi #Singapore Institute of International Affairs (SIIA) #Haze Outlook 2026 #singapura