batampos - Para ekonom dan ilmuwan memperingatkan bahwa fenomena Super El Nino yang dijuluki Godzilla El Nino berpotensi memicu lonjakan harga pangan global selama beberapa tahun ke depan bahkan dampaknya diperkirakan masih terasa hingga 2028.
Peringatan muncul setelah berbagai lembaga riset dan pelaku pasar memperkirakan El Niño akan menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa dekade terakhir.
Analis menilai ancaman datang ketika rantai pasok global masih menghadapi tekanan akibat berbagai faktor geopolitik. Kombinasi cuaca ekstrem dan gangguan distribusi diperkirakan menciptakan dua guncangan yang dapat memperparah kenaikan harga bahan pangan di banyak negara.
Super El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengubah pola cuaca di berbagai belahan dunia.
Berdasarkan pemantauan ilmuwan, peluang fenomena berkembang menjadi kategori sangat kuat mencapai sekitar 63% dengan suhu permukaan laut berpotensi melebihi 2 derajat Celsius di atas normal pada akhir tahun.
Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Ketegangan dengan AS Kembali Picu Kekhawatiran Global
Kondisi tersebut dapat memicu kekeringan, gelombang panas, banjir, hingga badai yang berdampak langsung terhadap sektor pertanian.
"Kekuatan El Nino kali ini dapat mendorong kenaikan harga komoditas pangan global hingga 15,8%," ujar Goldman Sachs, dikutip dari The Guardian, Senin (13/7).
Sejumlah komoditas yang paling rentan seperti beras, minyak sawit, gula, dan kopi diperkirakan mengalami lonjakan harga antara 50 - 100% apabila produksi terganggu secara signifikan. Efek ekonomi dari fenomena diperkirakan tidak langsung berakhir ketika El Nino mereda.
Para ekonom menjelaskan bahwa siklus tanam yang berbeda di setiap negara, waktu pemulihan hasil panen, hingga hambatan logistik membuat dampak terhadap harga pangan baru akan terasa sepenuhnya pada paruh kedua 2028.
Berkurangnya debit sungai dan kanal yang menjadi jalur distribusi juga berpotensi memperlambat pasokan pangan global. Asia Tenggara diperkirakan menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak.
Kekeringan berpotensi mengurangi produksi minyak sawit, kopi, dan kakao, sementara musim hujan yang tidak menentu juga meningkatkan risiko gagal panen serta penyebaran penyakit tanaman.
Kondisi ini dikhawatirkan mempersempit pasokan komoditas ekspor utama dari kawasan ini. Di Indonesia, pemerintah menyatakan telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi El Niño Godzilla.
Upaya yang dilakukan antara lain memperkuat cadangan beras nasional, memperluas jaringan irigasi, membangun embung, sumur bor, pompanisasi, optimalisasi lahan, hingga membuka sawah baru guna menjaga ketahanan pangan nasional apabila dampak cuaca ekstrem semakin memburuk.(*)