batampos – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain serta sistem radar pengawasan di Oman. Klaim tersebut disampaikan melalui laporan media nasional Iran, IRIB, Senin.
Mengutip pernyataan Angkatan Laut IRGC, IRIB melaporkan serangan menggunakan rudal dan drone tersebut menyasar infrastruktur militer AS di kawasan Juffair, Bahrain. Selain itu, Iran juga menyebut sistem radar pengawasan udara jarak jauh dan radar pengawasan maritim di Oman turut menjadi target.
Tak lama setelah klaim tersebut disampaikan, Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengumumkan bahwa sirene peringatan serangan udara kembali berbunyi di sejumlah wilayah negara itu. Pemerintah Bahrain meminta masyarakat tetap tenang dan segera mencari tempat perlindungan terdekat apabila terjadi ancaman.
IRGC menyatakan pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz hanya dapat dilakukan apabila Amerika Serikat menghentikan aktivitas militernya di kawasan tersebut serta menghormati kedaulatan negara-negara pesisir.
Dalam pernyataannya, IRGC juga memperingatkan bahwa keberadaan militer AS yang terus berlangsung di Selat Hormuz dapat memicu “insiden yang lebih besar” dan berpotensi berdampak terhadap stabilitas sektor energi global, khususnya minyak dan gas.
Klaim serangan terbaru ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat setelah rangkaian aksi saling serang yang melibatkan kedua negara, termasuk insiden yang berkaitan dengan kapal-kapal komersial di kawasan Selat Hormuz.
Sebelumnya, IRGC menyatakan penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim hingga batas waktu yang belum ditentukan. Jalur strategis tersebut merupakan salah satu rute perdagangan energi terpenting dunia karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Sementara itu, pada Juni lalu, Iran dan Amerika Serikat sempat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan dengan tujuan menghentikan konflik militer dan membuka jalan menuju kesepakatan damai permanen.
Namun, setelah kembali terjadi eskalasi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan nota kesepahaman tersebut telah berakhir.
Hingga kini, belum ada konfirmasi independen mengenai tingkat kerusakan maupun dampak dari klaim serangan IRGC terhadap fasilitas militer AS dan sistem radar Oman tersebut. (*)
Editor : Jamil Qasim