Trump Kirim JD Vance ke Pakistan, AS-Iran Masuki Negosiasi Penentu Gencatan Senjata

Jamil Qasim • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 17:31 WIB
Seorang petugas polisi berjalan melewati papan iklan mengenai negosiasi Amerika Serikat dan Iran, di luar pusat fasilitasi media di Islamabad, Pakistan, Sabtu, 11 April 2026. (Anjum Naveed/AP)
Seorang petugas polisi berjalan melewati papan iklan mengenai negosiasi Amerika Serikat dan Iran, di luar pusat fasilitasi media di Islamabad, Pakistan, Sabtu, 11 April 2026. (Anjum Naveed/AP)

batampos – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengirim delegasi tingkat tinggi ke Islamabad, Pakistan, untuk memulai perundingan langsung dengan Iran. Langkah ini menjadi upaya terbaru Washington dalam mendorong penyelesaian konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan di kawasan Timur Tengah.

Pertemuan perdana dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (1/8) dan dinilai menjadi momentum penting setelah kedua pihak menjalani masa gencatan senjata selama dua pekan.

Delegasi Amerika Serikat dipimpin Wakil Presiden JD Vance, didampingi Utusan Khusus Timur Tengah Steve Witkoff serta Jared Kushner. Informasi tersebut disampaikan Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt.

Baca Juga: SPMB Kepri Kembali Tuai Keluhan, Calon Siswa Tak Masuk SMKN 7 Batam Meski Dekat Rumah

Di pihak Iran, Presiden Masoud Pezeshkian memastikan Teheran akan menghadiri perundingan setelah melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.

Delegasi Iran diperkirakan dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, salah satu tokoh penting dalam struktur kepemimpinan Iran selama konflik berlangsung.

Perundingan di Islamabad digelar setelah pemerintahan Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan menyusul operasi militer yang diklaim berhasil melemahkan kemampuan Iran memasok persenjataan kepada kelompok-kelompok proksinya di kawasan.

Karoline Leavitt mengatakan kemampuan Iran untuk mempersenjatai kelompok proksi di Timur Tengah telah menurun secara signifikan setelah operasi militer Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari.

Meski demikian, situasi keamanan di kawasan belum sepenuhnya kondusif. Bentrokan masih terus terjadi di Lebanon, di mana militer Israel melanjutkan serangan terhadap sasaran Hezbollah. Iran menilai operasi tersebut bertentangan dengan semangat gencatan senjata yang tengah berlangsung.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan dunia kini menunggu sikap Amerika Serikat dalam meredakan konflik.

"Dunia sedang menyaksikan pembantaian di Lebanon. Bola kini berada di tangan Amerika Serikat, dan dunia melihat apakah mereka akan memenuhi komitmennya," ujarnya.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan serangan Israel sehari sebelumnya menewaskan 182 orang, menjadi korban harian terbanyak sejak perang Israel-Hezbollah pecah.

Secara keseluruhan, lebih dari lima pekan konflik telah menyebabkan sedikitnya 1.739 orang meninggal dunia dan 5.873 lainnya mengalami luka-luka.

Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan mendukung keputusan Trump menghentikan sementara serangan terhadap Iran selama dua pekan. Namun, dukungan tersebut tidak mencakup operasi militer Israel terhadap Hezbollah di Lebanon.

Israel juga menetapkan sejumlah syarat agar gencatan senjata dapat terus berjalan, antara lain Iran membuka kembali Selat Hormuz serta menghentikan seluruh serangan terhadap Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara lain di kawasan.

JD Vance turut mengingatkan Teheran agar tidak membiarkan konflik di Lebanon menggagalkan proses diplomasi.

Dalam kunjungannya ke Hungaria, Vance menegaskan bahwa keputusan untuk melanjutkan atau menggagalkan negosiasi sepenuhnya berada di tangan Iran.

Di tengah upaya diplomatik tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengaku telah berbicara dengan para pemimpin Amerika Serikat dan Iran. Ia berharap gencatan senjata dapat dihormati secara menyeluruh, termasuk di Lebanon yang masih dilanda konflik.

Selat Hormuz juga menjadi salah satu isu utama dalam perundingan. Media Iran melaporkan jalur pelayaran strategis itu sebagian besar masih diblokade, sementara Gedung Putih menyebut aktivitas pelayaran mulai kembali meningkat.

Pada saat yang sama, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC Navy) mengumumkan jalur pelayaran alternatif untuk menghindari ranjau laut. Langkah tersebut diambil sembari menegaskan komitmen Iran membuka kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari proses negosiasi gencatan senjata. (*)

Editor : Jamil Qasim
AS-Iran JD Vance ke Pakistan