Populasi Jepang Anjlok di Bawah 120 Juta, Terendah dalam 42 Tahun

JawaPos • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 14:11 WIB
Keramian di Simpang  Shibuya, Jepang.  F. Unsplash
Keramian di Simpang Shibuya, Jepang. F. Unsplash

batampos - Jumlah warga negara Jepang yang tinggal di dalam negeri turun di bawah 120 juta jiwa untuk pertama kalinya dalam 42 tahun. Data terbaru pemerintah Jepang menunjukkan negara tersebut masih menghadapi krisis demografi akibat rendahnya angka kelahiran dan populasi yang terus menua.

Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang yang dirilis Rabu (30/7), jumlah warga negara Jepang per 1 Januari 2026 tercatat 119,74 juta jiwa, turun 0,76 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan ini menandai tahun ke-17 berturut-turut menyusutnya populasi warga Jepang sejak mencapai puncaknya pada 2009. Survei kependudukan tersebut telah dilakukan secara rutin sejak 1968.

 

Jumlah Warga Asing di Jepang Mencapai Rekor

Di tengah penurunan populasi warga lokal, jumlah penduduk asing yang menetap di Jepang justru terus meningkat.

Hingga awal 2026, jumlah warga negara asing mencapai 4,03 juta orang, naik 353.696 orang atau 9,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2013.

Sepanjang 2025, sebanyak 720.988 orang tercatat pindah ke Jepang dari luar negeri, menjadi rekor tertinggi dalam sejarah.

Jika digabungkan dengan warga negara asing, total populasi Jepang saat ini mencapai 123,8 juta jiwa.

 

Tokyo Jadi Tujuan Utama Warga Asing

Tokyo menjadi prefektur dengan penambahan warga asing terbesar, yakni 62.479 orang, disusul Osaka sebanyak 41.401 orang dan Saitama 28.606 orang.

Dari sisi persentase pertumbuhan, Hokkaido mencatat kenaikan tertinggi sebesar 14,89 persen, diikuti Okinawa (14,36 persen) dan Oita (13,9 persen).

Di tingkat kota, Osaka menjadi daerah dengan pertambahan warga asing terbesar, sementara Kota Kutchan di Hokkaido mencatat pertumbuhan tertinggi di wilayah pedesaan. Peningkatan tersebut didorong kebutuhan tenaga kerja di kawasan resor ski yang ramai dikunjungi wisatawan mancanegara.

Tokyo juga memiliki proporsi penduduk asing tertinggi di Jepang, yakni 5,57 persen, diikuti Prefektur Aichi (4,66 persen) dan Gunma (4,62 persen).

Sebagian besar warga asing berada pada kelompok usia produktif. Kelompok usia 25–29 tahun menjadi yang terbesar dengan porsi 17,7 persen, disusul usia 20–24 tahun (16,54 persen) dan 30–34 tahun (13,29 persen).

 

Angka Kelahiran Terus Menurun

Jepang merupakan salah satu negara dengan populasi tertua di dunia. Menurut Bank Dunia, usia median penduduk Jepang mencapai 49,9 tahun, tertinggi kedua di dunia setelah Monako.

Data pemerintah yang dirilis pada Juni lalu menunjukkan tingkat fertilitas Jepang kembali turun menjadi 1,14 anak per perempuan, terendah sepanjang sejarah sekaligus menjadi penurunan selama 10 tahun berturut-turut.

Jumlah bayi yang lahir sepanjang 2025 juga turun hampir 15.000 kelahiran menjadi sedikit di atas 670.000 bayi, angka terendah sejak pencatatan dimulai pada 1899.

Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya kekurangan tenaga kerja, membengkaknya beban jaminan sosial, serta menyusutnya basis penerimaan pajak di negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia tersebut.

 

 

Pemerintah Andalkan Aplikasi Kencan Berbasis AI

Sebagai salah satu upaya mengatasi krisis demografi, Pemerintah Metropolitan Tokyo meluncurkan aplikasi pencarian jodoh berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama TOKYO Enmusubi pada September 2024.

Aplikasi tersebut dibuat setelah survei menemukan sekitar 70 persen masyarakat yang ingin menikah tidak aktif mengikuti kegiatan pencarian pasangan.

Calon pengguna diwajibkan membuktikan status lajang secara hukum serta mengikuti wawancara daring sebelum dapat bergabung.

Hingga 30 Juni 2026, aplikasi tersebut memiliki sekitar 16.000 anggota aktif dari total 36.000 pendaftar. Sebanyak 760 pasangan tercatat telah menjalin hubungan serius, sementara 265 pasangan telah resmi menikah berkat aplikasi tersebut.

Salah satu pengguna yang menggunakan nama samaran "Turtle" mengaku mencoba aplikasi itu sebagai "kesempatan terakhir" menjelang ulang tahunnya yang ke-40. Setelah beberapa kali menjalani kencan buta, ia bertemu calon suaminya pada Agustus 2025 dan menerima lamaran pada Desember tahun yang sama. (*)

 

Editor : Putut Ariyo
populasi Jepang Demografi Jepang Angka Kelahiran Warga Asing Jepang jepang