batampos – Iran mengklaim telah mencapai kesepakatan dengan Oman terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur laut paling strategis di dunia yang dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) global.
Meski demikian, Teheran menegaskan kesepakatan tersebut belum menjamin keamanan pelayaran di kawasan itu. Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya membuka kembali Selat Hormuz yang selama beberapa bulan terakhir terganggu akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Apabila kesepakatan itu terealisasi, jalur distribusi energi global diperkirakan akan kembali lancar sehingga dapat membantu meredakan gejolak harga minyak dunia.
Baca Juga: KPK Ungkap Tiga Pertemuan Bupati Kuansing dengan Menhut, Diduga Ada Penyerahan Uang pada Mei dan Jun
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan pembahasan dengan Oman telah memasuki tahap akhir. Namun, ia belum mengungkapkan rincian teknis dari kesepakatan tersebut.
"Koordinat geografis jalur tersebut telah disepakati dengan Oman," kata Baqaei, seperti dikutip kantor berita resmi Iran, IRNA.
Ia menambahkan, kondisi Selat Hormuz masih belum sepenuhnya aman karena Amerika Serikat tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
"Faktor-faktor yang membuat Selat Hormuz tidak aman masih tetap ada dari pihak Amerika Serikat, terutama blokade angkatan laut serta tindakan agresif dan ancaman lainnya terhadap Iran dan kepentingannya," ujarnya.
Baca Juga: Unjuk Kekuatan Tempur, TNI Tembakkan Rudal C-705 di Dabo Singkep
Hingga kini, pemerintah Amerika Serikat maupun Oman belum memberikan tanggapan resmi atas klaim tersebut.
Jalur Bersifat Sementara
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengungkapkan jalur pelayaran yang disepakati bersama Oman hanya bersifat sementara dan diperkirakan dapat digunakan selama dua hingga empat bulan.
Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci lokasi maupun mekanisme operasional jalur tersebut.
Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu, Teheran memperketat lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Seluruh kapal diwajibkan memperoleh izin sebelum melintas, sementara sejumlah kapal yang mengabaikan ketentuan itu dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran. Pada Selasa waktu setempat, ia memperingatkan Iran akan menghadapi konsekuensi serius apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Trump bahkan menyatakan Iran akan "dipukul sangat keras" jika jalur pelayaran tersebut tidak kembali beroperasi dalam waktu dekat.
Pernyataan itu disampaikan setelah sejumlah pejabat senior AS menyebut pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz menunjukkan kemajuan dan pengiriman barang berpotensi kembali berlangsung dalam pekan ini.
Meski demikian, Iran tetap menegaskan tidak sedang bernegosiasi dengan Washington dan tidak memiliki rencana melakukan perundingan.
Perbedaan Soal Tarif Kapal
Salah satu isu yang masih menjadi kendala dalam pembahasan adalah rencana Iran mengenakan tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, seorang pejabat senior Iran menyebut Teheran mengusulkan tarif sebesar 5 hingga 7 persen dari nilai muatan kapal. Sementara Oman mengusulkan tarif sekitar 3 persen, sedangkan Amerika Serikat menolak pemberlakuan biaya tersebut.
Reuters juga melaporkan bahwa skema kesepakatan itu akan memberikan Iran kendali terhadap kapal-kapal yang memasuki Teluk Persia melalui Selat Hormuz. (*)
Editor : Jamil Qasim