Iran Kecam Diplomasi AS soal Konflik, Sebut Trump Lakukan “Diplomasi Sandiwara”

JawaPos • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 07:30 WIB
Sebuah spanduk yang menampilkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dipajang di depan rudal balistik Zolfaghar dan Zolghadr yang dipamerkan di Iran, Minggu (2/8). Foto: ANTARA/Anadolu/Fatemeh Bahrami
Sebuah spanduk yang menampilkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dipajang di depan rudal balistik Zolfaghar dan Zolghadr yang dipamerkan di Iran, Minggu (2/8). Foto: ANTARA/Anadolu/Fatemeh Bahrami

batampos – Iran mengecam pola diplomasi Amerika Serikat (AS) dalam menghadapi konflik kedua negara. Ketua Parlemen Iran sekaligus Ketua Tim Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut pendekatan Washington sebagai “diplomasi sandiwara”.

Kritik tersebut disampaikan Ghalibaf melalui platform X, Jumat (7/8), setelah Presiden AS Donald Trump kembali membuka peluang negosiasi dengan Iran.

“Serangan besar-besaran akan datang, tunggu, lupakan saja, mereka ingin bernegosiasi. Itulah diplomasi sandiwara yang berulang-ulang,” kata Ghalibaf.

Menurut Ghalibaf, pola intimidasi, janji yang tidak ditepati, serta penyebaran informasi yang disebutnya tidak benar justru menunjukkan kegagalan pendekatan Washington.

“Akui saja faktanya dan penuhi komitmen Anda. Kami tidak perlu sandiwara lagi,” tegasnya.

Trump Kembali Buka Peluang Negosiasi

Sebelumnya, Kamis (6/8), Trump mengatakan dirinya tengah terlibat dalam pembicaraan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Ia juga mengisyaratkan kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran dalam waktu dekat.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran dalam beberapa pekan terakhir.

AS sebelumnya menargetkan sejumlah fasilitas militer milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Iran kemudian membalas dengan menyerang fasilitas dan aset militer AS di sejumlah negara Teluk, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Eskalasi tersebut terjadi setelah proses diplomasi antara kedua negara kembali mengalami kebuntuan.

Salah satu persoalan utama dalam perundingan adalah perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut merupakan salah satu rute strategis bagi perdagangan global dan distribusi energi.

Trump sebelumnya juga sempat mengancam akan melancarkan serangan keras terhadap Iran, termasuk kemungkinan menargetkan fasilitas energi, jembatan, dan pembangkit listrik.

Namun, ancaman tersebut kemudian mereda setelah Trump menyatakan Iran bersedia kembali ke meja perundingan.

Sejumlah laporan media AS juga menyebut keterbatasan persediaan rudal pencegat sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi keputusan Washington dalam menentukan langkah militer berikutnya.

AS Siapkan Opsi Militer dan Diplomatik

Di tengah kritik Iran, Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa Washington tetap akan menggunakan seluruh instrumen yang tersedia untuk mengakhiri konflik.

Dalam wawancara dengan Fox News, Rabu (5/8), Vance mengatakan terdapat sejumlah persoalan yang membuat proses negosiasi dengan Iran menjadi sulit.

“Pertama, Iran adalah pihak yang sangat sulit untuk diajak bekerja sama. Kedua, mereka memiliki sistem yang terpecah,” kata Vance.

Menurut Vance, terdapat kelompok di dalam pemerintahan Iran yang menginginkan konflik segera berakhir. Namun, terdapat pula kelompok yang menginginkan perang terus berlangsung.

“Tugas kami adalah menyikapi situasi tersebut dan mencapai hasil terbaik bagi rakyat Amerika serta Presiden Amerika Serikat,” ujarnya.

Vance mengakui penyelesaian konflik tidak akan mudah dan membutuhkan waktu. Meski demikian, ia optimistis kesepakatan tetap dapat dicapai melalui proses negosiasi.

“Prosesnya akan rumit dan membutuhkan waktu, tetapi pada akhirnya kita akan sampai ke tujuan,” katanya.

Vance juga memperkirakan harga minyak dapat turun dan bertahan pada level yang lebih rendah apabila ketegangan mereda.

“Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, dan Amerika Serikat akan berada pada posisi yang lebih kuat,” lanjutnya.

Ia menegaskan Washington memiliki sejumlah opsi, mulai dari instrumen militer dan ekonomi hingga jalur diplomatik, untuk mengakhiri konflik sesuai kepentingan AS.

Selat Hormuz Jadi Titik Krusial

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu isu paling sensitif dalam hubungan AS dan Iran. Jalur tersebut memiliki posisi strategis dalam perdagangan dan pasokan energi dunia.

Trump sebelumnya mengatakan lebih memilih mencapai kesepakatan dengan Iran dibandingkan menggunakan kekuatan militer. Namun, opsi serangan tetap terbuka apabila jalur diplomasi tidak menghasilkan kesepakatan.

“Saya lebih memilih membuat kesepakatan karena saya tidak ingin membunuh orang,” kata Trump dalam sebuah acara di Las Vegas.

Perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz menjadi salah satu hambatan utama dalam pembicaraan antara Washington dan Teheran.

Di tengah situasi tersebut, kedua negara masih menghadapi tantangan untuk mengembalikan proses diplomasi sekaligus mencegah konflik berkembang menjadi eskalasi militer yang lebih luas. (*)

Editor : Putut Ariyo
amerika serikat selat hormuz konflik iran-as donald trump iran