batampos – Washington menghadapi dilema dalam perang melawan Iran. Hampir enam bulan setelah konflik pecah, opsi militer yang tersedia belum mampu memaksa Teheran menerima kesepakatan sesuai keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Situasi tersebut dilaporkan mendorong Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mencari jalur untuk mengakhiri konflik.
Tiga sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan Caine telah menyampaikan kepada sejumlah penasihat senior Trump bahwa Washington perlu menemukan off-ramp, atau jalur untuk mengakhiri perang.
Baca Juga: Pemprov Kepri Dapat Rp97 Miliar untuk Revitalisasi 107 Sekolah di Wilayah 3T
Kekhawatiran Caine terutama berkaitan dengan risiko apabila konflik terus diperluas. Menurut sumber tersebut, sejumlah opsi militer justru berpotensi menjadi bumerang. Sementara itu, mengandalkan serangan udara saja dinilai belum tentu cukup untuk mencapai tujuan politik Trump.
“Caine sedang mencari jalan keluar,” kata salah satu sumber kepada CNN, seperti dilansir Sabtu (8/8).
Sikap tersebut menunjukkan persoalan yang dihadapi Washington bukan sekadar bagaimana meningkatkan tekanan militer terhadap Iran, melainkan bagaimana mengakhiri konflik tanpa membuat Amerika Serikat semakin terjebak dalam perang berkepanjangan.
Jenderal AS Mulai Cari Jalan Keluar
Caine disebut tidak sendirian dalam melihat konflik Iran telah mencapai titik persimpangan. Dia dilaporkan telah membahas kekhawatiran mengenai opsi peningkatan operasi militer dengan sejumlah pejabat senior pemerintahan Trump.
Mereka di antaranya Direktur CIA John Ratcliffe, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Wakil Presiden JD Vance.
Dua sumber mengatakan Caine juga melakukan pembicaraan khusus dengan sejumlah pejabat yang memiliki pandangan serupa.
Langkah tersebut bertujuan memperkuat koordinasi antarinstansi sekaligus memastikan adanya pemahaman yang sama sebelum para pejabat menghadapi pertemuan dengan Trump.
Dalam pembicaraan itu, Caine disebut berupaya menjelaskan keterbatasan dan potensi jebakan dari berbagai pilihan militer yang tersedia. Opsi tersebut bahkan mencakup skenario yang tidak memerlukan pengerahan pasukan darat AS ke Iran.
Baca Juga: Pakar TPPU: Kasus Febrie Adriansyah Harus Buktikan Tindak Pidana Asal
“Saya pikir itu hanya caranya untuk melindungi militer,” kata salah satu sumber kepada CNN mengenai komunikasi Caine dengan sejumlah pejabat senior keamanan nasional dalam kabinet Trump.
Trump Masih Andalkan Kekuatan Udara
Salah satu persoalan utama Washington adalah keinginan Trump untuk menghindari pengerahan pasukan darat ke Iran.
Trump selama ini menunjukkan ketidaktertarikan mengirim pasukan darat dalam jumlah besar. Sebaliknya, dia memberi sinyal bahwa serangan udara dapat memberikan tekanan yang cukup besar kepada Iran sehingga Teheran bersedia menerima kesepakatan sesuai persyaratan Washington.
Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya diyakini Caine dan sejumlah pejabat senior pemerintahan.
Mereka secara pribadi menilai serangan udara saja kemungkinan tidak mampu menghasilkan hasil politik yang diinginkan Trump.
Karena itu, para pejabat tersebut mulai mempertimbangkan pilihan lain yang tetap berada dalam batasan yang ditetapkan presiden.
Masalahnya, semakin jauh konflik diperluas, semakin besar pula risiko yang harus ditanggung militer AS.
Di sinilah dilema Washington terlihat jelas. Jika serangan dihentikan atau dikurangi tanpa tercapainya kesepakatan, Trump berpotensi dianggap gagal mencapai tujuan perang.
Sebaliknya, jika operasi militer terus diperluas, AS berisiko semakin terjebak dalam konflik yang sulit diprediksi ujungnya.
Baca Juga: Korea Selatan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 37 Derajat Celsius
Situasi tersebut menjadi semakin signifikan karena perang telah berlangsung hampir enam bulan.
Konflik pada awalnya dibarengi berbagai klaim mengenai kerusakan besar pada kemampuan militer Iran. Namun, perang tetap berlanjut dan Washington masih menghadapi persoalan utama yang sama.
Trump sendiri sejak awal menempatkan pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir sebagai salah satu tujuan utama konflik.
Kini, pertanyaan yang muncul lebih sulit: apakah kekuatan militer AS benar-benar mampu memaksa Iran menerima kesepakatan yang diinginkan Trump?
Jika tidak, Washington membutuhkan strategi lain untuk mengakhiri perang. Dalam konteks itulah langkah Caine mencari off-ramp menjadi penting.
Posisi jenderal tertinggi AS yang disebut mendorong pencarian jalur keluar menunjukkan adanya kekhawatiran di lingkaran keamanan nasional bahwa tidak semua tujuan politik dapat diselesaikan melalui kekuatan udara.
Dengan demikian, persoalan AS bukan lagi sekadar kemampuan menyerang Iran, melainkan bagaimana mengubah keunggulan militer menjadi hasil politik yang konkret. (*)
Editor : M Tahang