batampos - Sebuah pesawat Cathay Pacific yang melayani rute Hong Kong-London sempat kehilangan komunikasi dengan pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Control/ATC) saat melintasi wilayah udara Rumania. Insiden tersebut memicu prosedur intersepsi hingga jet tempur NATO dikerahkan untuk mengidentifikasi pesawat.
Berdasarkan hasil investigasi yang diumumkan Departemen Penerbangan Sipil Hong Kong pada Jumat (14/8), gangguan komunikasi itu bukan disebabkan oleh kerusakan teknis, melainkan akibat kesalahan kru pesawat.
Investigasi mengungkapkan bahwa penerbangan CX257 pada 4 Juli secara tidak sengaja merespons instruksi ATC yang sebenarnya ditujukan kepada pesawat lain. Setelah itu, kru mengubah radio komunikasi ke frekuensi yang salah.
Akibat kesalahan tersebut, komunikasi antara pesawat dan pengatur lalu lintas udara terputus. Kru juga tidak segera menyadari bahwa mereka telah kehilangan kontak dengan ATC.
Sesuai prosedur keselamatan internasional, otoritas penerbangan kemudian mengaktifkan prosedur intersepsi. Jet tempur NATO diterbangkan untuk mengidentifikasi pesawat yang tidak dapat dihubungi.
Beberapa saat kemudian, komunikasi berhasil dipulihkan dan pesawat melanjutkan penerbangan menuju London sesuai rute yang telah disetujui.
Departemen Penerbangan Sipil Hong Kong menyatakan sangat prihatin atas insiden tersebut. Otoritas meminta Cathay Pacific menerapkan sejumlah langkah perbaikan, termasuk memberikan pelatihan tambahan dan evaluasi terhadap kru yang terlibat.
Maskapai juga memperkuat prosedur pengoperasian dan pemantauan sistem komunikasi selama penerbangan serta meningkatkan mekanisme pelaporan insiden keselamatan penerbangan.
Langkah-langkah tersebut telah diterapkan sejak pertengahan Juli. Sementara itu, Departemen Penerbangan Sipil Hong Kong akan terus memantau efektivitas penerapannya.
Sebelumnya, Cathay Pacific menegaskan bahwa selama insiden berlangsung pesawat tetap berada di jalur penerbangan yang telah disetujui. Maskapai juga memastikan keselamatan pesawat, awak, dan seluruh penumpang tidak pernah berada dalam kondisi terancam. (*)
Editor : Putut Ariyo