Iran dan Oman Siapkan Rute Baru di Selat Hormuz, Trump Justru Layangkan Ancaman

JawaPos • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:38 WIB
Ilustrasi pelayaran kapal di Selat Hormuz. Foto: JP Group
Ilustrasi pelayaran kapal di Selat Hormuz. Foto: JP Group

batampos - Iran dan Oman mencapai pemahaman awal mengenai peta jalur transit baru bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Kesepahaman ini diharapkan dapat membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut yang kini hampir lumpuh akibat konflik di kawasan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan, pemahaman mengenai jalur transit baru itu dicapai dalam pembicaraan bilateral dengan Oman.

“Sebuah pemahaman telah dicapai mengenai peta rute transit,” kata Baghaei kepada wartawan di Teheran.

Baghaei belum mengungkapkan secara rinci bentuk jalur baru yang disepakati. Berdasarkan laporan sebelumnya, kapal kemungkinan akan masuk melalui jalur yang berada di dekat perairan Iran dan kemudian keluar melalui rute yang berdekatan dengan Oman.

Pada tahap awal, kapal yang menggunakan jalur tersebut disebut dapat melintas tanpa dikenai biaya transit.

Kesepahaman Iran dan Oman dicapai ketika lalu lintas kapal di Selat Hormuz hampir terhenti akibat perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Sebelum konflik terjadi, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.

Gangguan terhadap jalur tersebut kemudian memicu gejolak di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya berada di kisaran 70 dolar AS per barel sebelum perang bahkan sempat mendekati 115 dolar AS per barel pada awal Mei.

Data perusahaan analitik maritim Kpler menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih sangat terbatas. Pada Minggu, hanya tiga kapal tercatat melintasi selat tersebut.

Situasi itu membuat pembukaan kembali jalur pelayaran menjadi salah satu isu penting dalam upaya mengurangi dampak ekonomi akibat perang.

Pembicaraan Iran dan Oman mengenai rute baru serta mekanisme pengelolaan lalu lintas kapal diketahui telah berlangsung sekitar tiga bulan.

Teheran berulang kali menegaskan bahwa kesepakatannya dengan Oman berdiri sendiri dan tidak bergantung pada tercapai atau tidaknya kesepakatan Iran dengan Amerika Serikat mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.

Saat ini terdapat tiga jalur yang digunakan di kawasan tersebut, yakni jalur yang melewati perairan teritorial Iran, rute yang sebelumnya digunakan di bagian tengah selat, serta jalur Organisasi Maritim Internasional (IMO) yang melintasi perairan Oman di bagian selatan.

Namun, ketiga jalur tersebut terdampak konflik. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan menyerang kapal yang melintas melalui sejumlah rute tersebut.

Karena itu, jalur baru yang disiapkan Iran dan Oman diharapkan menjadi alternatif transit sekaligus mengurangi risiko bagi kapal komersial.

Negosiasi dengan AS Masih Terkendala

Di tengah pembahasan rute baru tersebut, negosiasi mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz antara Iran dan Amerika Serikat masih menemui hambatan.

Baghaei mengatakan, pembicaraan dengan Washington bergantung pada pencabutan sejumlah persyaratan yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Iran.

Iran juga menuntut Amerika Serikat menghentikan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang diberlakukan sejak April serta membayar ganti rugi atas dampak perang.

Menurut Baghaei, pembicaraan berlangsung lambat. Namun, Teheran tetap menargetkan kesepahaman tersebut dirampungkan sebagai satu paket yang mencakup peta jalur transit dan pernyataan bersama.

Trump Layangkan Ancaman

Perkembangan hubungan Iran dan Oman justru memicu respons keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump mengancam Oman dengan serangan militer jika negara tersebut dianggap menghambat kemungkinan kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Pemerintahan Trump sebelumnya beberapa kali menyatakan bahwa Washington semakin dekat dengan kesepakatan dengan Iran. Kesepakatan itu disebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian perang, serta pembatasan pengayaan uranium Iran.

Namun, Teheran membantah bahwa pihaknya sedang melakukan negosiasi dengan Washington. (*)

Editor : Putut Ariyo
konflik Timur Tengah Oman selat hormuz donald trump iran