Arab Saudi Ubah Strategi Proyek Neom, Fokus ke AI, Logistik, dan Energi Bersih

JawaPos • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:03 WIB
Ilustrasi artistik proyek Neom di Arab Saudi. Foto: The Times
Ilustrasi artistik proyek Neom di Arab Saudi. Foto: The Times

batampos – Pemerintah Arab Saudi mulai mengubah strategi pembangunan Neom, proyek kota futuristis yang menjadi ikon program transformasi ekonomi Vision 2030. Melalui dana kekayaan negara Public Investment Fund (PIF), pemerintah kini mengarahkan pengembangan Neom secara bertahap dengan fokus pada proyek yang dinilai memiliki prospek keuntungan lebih besar.

Langkah tersebut menandai perubahan pendekatan setelah sejumlah proyek ambisius Neom menghadapi tantangan berupa pembengkakan biaya, keterlambatan pembangunan, dan minimnya investasi asing.

Sebelumnya, Neom dirancang sebagai pusat ekonomi masa depan dengan berbagai proyek berskala besar, termasuk The Line, kota linear sepanjang 180 kilometer, serta Trojena, destinasi wisata pegunungan yang dirancang memiliki salju buatan.

Berdasarkan laporan tahunan PIF 2025 yang dikutip The Times, Kamis (20/8/2026), visi pembangunan Neom tetap dipertahankan. Namun, pelaksanaannya kini disesuaikan dengan kelayakan bisnis dan potensi komersial masing-masing proyek.

PIF menegaskan pengembangan Neom tetap mencakup The Line, kota industri Oxagon, kawasan pegunungan Trojena, Nature Region, destinasi pesisir Magna, hingga Islands of Neom. Meski demikian, seluruh proyek akan dikembangkan secara bertahap dengan penentuan prioritas berdasarkan nilai ekonomi.

Salah satu perubahan paling mencolok terlihat pada proyek The Line. Kota futuristis yang semula dirancang membentang sepanjang 180 kilometer itu disebut tidak lagi dikembangkan sesuai skala awal. Sejumlah laporan juga menyebut aktivitas konstruksi melambat dan banyak pekerja meninggalkan lokasi proyek dalam setahun terakhir.

Arab Saudi juga memutuskan menarik diri sebagai tuan rumah Asian Winter Games 2029 yang sebelumnya direncanakan berlangsung di kawasan Trojena.

Di bawah kepemimpinan CEO baru Neom, Aiman Al-Mudaifer, pengendalian biaya menjadi prioritas utama. Al-Mudaifer menggantikan Nadhmi Al-Nasr yang diberhentikan pada 2024 setelah proyek Sindalah, resor yacht mewah di Neom, dinilai menelan biaya besar namun belum memberikan hasil sesuai harapan.

Meski beberapa proyek diperlambat, pembangunan Neom tidak dihentikan. Pemerintah kini mengalihkan fokus investasi ke sektor yang dinilai lebih menjanjikan, seperti pusat data kecerdasan buatan (AI), logistik, dan energi bersih.

Laporan Semafor pada Mei lalu menyebut pembangunan The Line ditunda hingga setelah 2030. Sementara itu, Oxagon dan infrastruktur pendukung industri AI menjadi proyek yang lebih diprioritaskan karena dianggap memiliki nilai ekonomi lebih cepat.

Perubahan strategi tersebut juga dilakukan untuk menjaga kinerja investasi PIF. Dalam laporan keuangan 2025, PIF mencatat total shareholder return sebesar 5,8 persen. Pendapatan meningkat 9 persen menjadi USD120 miliar atau sekitar Rp2.138,4 triliun, sedangkan laba bersih melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi USD17 miliar atau sekitar Rp302,9 triliun.

Saat ini, sebanyak 76 persen aset kelolaan PIF ditempatkan pada investasi domestik, sementara 20 persen berada di investasi internasional dan 4 persen pada instrumen treasury.

Sebelumnya, pembangunan The Line diperkirakan membutuhkan investasi sekitar USD1 triliun atau setara Rp17.820 triliun. Sekitar separuh pendanaannya diharapkan berasal dari sektor swasta dan investor asing.

Namun, minat investasi yang belum memenuhi harapan membuat kelayakan proyek kembali menjadi sorotan. Sejumlah kritik bahkan menyebut sebagian konsep Neom terlalu ambisius dan berisiko menurunkan kepercayaan investor terhadap proyek-proyek besar Arab Saudi. (*)

Editor : Putut Ariyo
Neom Public Investment Fund The Line Vision 2030 arab saudi