batampos – Iran mengaku tidak gentar menghadapi perluasan sanksi ekonomi Amerika Serikat (AS). Teheran bahkan menyebut telah menyiapkan strategi selama dua tahun untuk menghadapi tekanan Washington.
Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan pemerintah telah mempersiapkan berbagai skenario untuk menjaga perekonomian tetap berjalan di tengah tekanan AS.
“Pemerintah sudah siap dan memiliki rencana dua tahun untuk mengelola peristiwa-peristiwa ini,” kata Madanizadeh kepada televisi pemerintah Iran, dikutip BBC.
Baca Juga: Ular Adder di Jersey Zoo Jalani Operasi, Telur Tak Dibuahi Diangkat
Menurut dia, Iran juga memiliki sejumlah instrumen sendiri untuk menghadapi tekanan ekonomi dan mempertahankan aktivitas perdagangan.
“Kami juga memiliki alat-alat kami sendiri dan tahu cara memainkan permainan ini,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan perluasan sanksi terhadap jaringan ekonomi Iran. Washington menyebut kebijakan itu sebagai salah satu serangan finansial terbesar terhadap Teheran.
Melalui operasi yang disebut Operation Economic Outcast, Departemen Keuangan AS menargetkan jaringan, perantara, dan saluran keuangan yang dituding membantu Iran menghindari sanksi serta menjual minyak.
Sanksi terbaru mencakup lima sektor, yakni aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran. Hampir 60 entitas, individu, dan kapal turut masuk daftar sanksi.
Washington juga memperingatkan negara, bank, dan perusahaan yang masih melakukan transaksi dengan Iran. Mereka berpotensi menghadapi konsekuensi jika tetap mempertahankan hubungan finansial dengan Teheran.
Baca Juga: Robot Humanoid Lari 100 Meter 9,39 Detik, Usain Bolt Terlampaui
Bessent menyebut Iran kini menghadapi pilihan antara menerima isolasi global atau kembali ke jalur normal dan memperoleh kesempatan bergabung kembali dengan perekonomian dunia.
Namun, upaya AS mengisolasi Iran masih menghadapi tantangan. Salah satunya karena hubungan ekonomi Teheran dengan Tiongkok dan Rusia.
Madanizadeh mengatakan kedua negara tersebut tidak menerima kebijakan terbaru Washington. Iran juga meyakini sejumlah negara lain akan mengambil sikap serupa.
Tiongkok, yang menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran, sebelumnya telah menolak sanksi sepihak AS. Beijing menyatakan tekanan ekonomi tidak akan membantu menyelesaikan persoalan dan menegaskan akan melindungi kepentingannya.
Sikap tersebut menjadi salah satu alasan Teheran optimistis dapat mempertahankan hubungan dagang dengan sejumlah negara meski tekanan ekonomi dari Washington semakin luas. (*)
Editor : M Tahang