Rekor Panas Pecah, Belanda Alami Musim Panas Terpanas Sejak 1901

JawaPos • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:53 WIB
Ilustrasi gelombang panas di Eropa. Foto: ANTARA/Anadolu/py.
Ilustrasi gelombang panas di Eropa. Foto: ANTARA/Anadolu/py.

batampos – Belanda mencatat musim panas terpanas sejak pengukuran suhu dimulai pada 1901. Berdasarkan data Institut Meteorologi Kerajaan Belanda (KNMI), suhu rata-rata selama tiga bulan terakhir mencapai 19,3 derajat Celsius di stasiun utama KNMI di De Bilt.

Angka tersebut melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada 2018, ketika suhu rata-rata musim panas mencapai 18,9 derajat Celsius.

Musim panas tahun ini ditandai dengan gelombang panas berulang, suhu malam yang sangat tinggi, serta kekeringan berkepanjangan di sejumlah wilayah.

Lembaga penyiaran publik Belanda NOS melaporkan, KNMI bahkan mengeluarkan peringatan merah pertama dalam sejarahnya untuk kondisi panas ekstrem pada Juni lalu.

Suhu Malam di Sejumlah Wilayah Capai Rekor

Pakar iklim KNMI Peter Siegmund mengatakan musim panas tahun ini memiliki sejumlah karakteristik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Kami mencatat suhu di atas 35 derajat pada hari terbanyak saat ini. Masa hari tropis juga lebih panjang dari sebelumnya. Belum pernah sebelumnya kami mengalami begitu banyak hari berturut-turut dengan suhu malam hari mencapai 22 derajat atau lebih," kata Siegmund.

Wilayah selatan Belanda menjadi salah satu kawasan yang mengalami suhu malam sangat tinggi.

Di Maastricht, suhu tidak turun di bawah 22 derajat Celsius selama tiga malam berturut-turut. Kondisi tersebut menjadi yang pertama kali tercatat dalam sejarah pengukuran di wilayah tersebut.

Suhu malam yang tetap tinggi menjadi salah satu indikator meningkatnya intensitas gelombang panas. Kondisi tersebut juga dapat mengurangi kesempatan tubuh untuk memulihkan diri setelah menghadapi suhu tinggi pada siang hari.

Perubahan Iklim Picu Panas Ekstrem Lebih Sering

Siegmund mengatakan kondisi panas ekstrem seperti yang terjadi pada musim panas tahun ini berpotensi menjadi lebih sering terjadi akibat perubahan iklim.

"Jika emisi gas rumah kaca tetap tinggi, suhu seperti yang terjadi tahun ini akan menjadi suhu musim panas yang umum terjadi sekitar tahun 2050," ujarnya.

Berdasarkan perhitungannya, musim panas dengan karakteristik suhu seperti tahun ini kini memiliki peluang terjadi sekitar sekali dalam lima tahun dalam kondisi iklim saat ini.

Frekuensi tersebut diperkirakan terus meningkat seiring berlanjutnya pemanasan global.

Meski demikian, Siegmund menilai kebijakan iklim yang efektif masih dapat memengaruhi tingkat kenaikan suhu dalam jangka panjang.

Selisih Suhu Bisa Mencapai 4 Derajat Celsius

Proyeksi KNMI menunjukkan kebijakan pengurangan emisi dapat memberikan perbedaan signifikan terhadap kondisi suhu pada masa mendatang.

Pada 2050, perbedaan antara skenario emisi tinggi dan rendah diperkirakan mencapai sekitar 1 derajat Celsius.

Perbedaan tersebut dapat semakin besar hingga mencapai sekitar 4 derajat Celsius pada akhir abad ini, tergantung pada perkembangan emisi gas rumah kaca dan efektivitas kebijakan iklim yang diterapkan.

Rekor suhu Belanda tahun ini menjadi salah satu gambaran bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi pola cuaca dan meningkatkan kemungkinan terjadinya periode panas ekstrem dalam jangka panjang. (*)

Editor : Putut Ariyo
gelombang panas KNMI belanda pemanasan global perubahan iklim