batampos - Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Iran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah target yang berkaitan dengan kepentingan militer AS di Yordania, Kuwait, Irak dan Bahrain.
Serangan tersebut terjadi setelah militer Amerika Serikat kembali melancarkan operasi terhadap sejumlah target di Iran pada Selasa (1/9/2026).
Komando Pusat AS (Centcom) menyebut operasi tersebut menyasar target milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Washington menyatakan serangan itu dilakukan sebagai respons terhadap aksi IRGC yang disebut menyerang pelayaran komersial di Selat Hormuz dan pasukan AS di kawasan.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan. Sejumlah negara di kawasan langsung mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk menghadapi ancaman rudal dan drone.
Rudal Iran Dicegat di Yordania
Salah satu serangan terjadi di Aqaba, Yordania. Iran dilaporkan meluncurkan sejumlah rudal balistik yang menyasar pangkalan Marinir AS sebagai bagian dari aksi pembalasan.
Media semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan serangan tersebut merupakan respons terhadap serangan AS di Sirik, wilayah selatan Iran.
Angkatan Bersenjata Yordania menyatakan berhasil mencegat 13 rudal balistik. Sebanyak 10 rudal berhasil dihancurkan, sementara tiga lainnya jatuh di wilayah terpencil.
Tidak ada laporan korban jiwa maupun luka akibat serangan tersebut.
Perkembangan ini menunjukkan konflik AS-Iran berpotensi meluas ke luar wilayah kedua negara. Keberadaan pangkalan dan aset militer Amerika di sejumlah negara kawasan membuat negara-negara sekutu Washington ikut menghadapi risiko serangan.
Kuwait dan Bahrain Hadapi Serangan
Kuwait juga menjadi sasaran serangan Iran. Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya dikerahkan untuk menghadapi serangan rudal Iran pada Rabu dini hari.
Di Bahrain, sejumlah ledakan dilaporkan terjadi. Media pemerintah Iran menyebut Bahrain turut menjadi sasaran serangan.
Bahrain memiliki posisi strategis bagi militer Amerika Serikat karena menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Serangan terhadap fasilitas yang berkaitan dengan kehadiran militer Amerika berpotensi meningkatkan ketegangan di kawasan Teluk.
Pangkalan AS di Irak Diserang
Iran juga melaporkan serangan terhadap sejumlah pangkalan AS di wilayah Kurdistan Irak.
Kantor berita Iran, IRNA, menyebut IRGC menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika dan mengklaim menghancurkan pusat pemeliharaan, gudang serta sejumlah peralatan.
Serangan tersebut menambah tekanan terhadap pemerintah Irak yang berada di tengah rivalitas antara Washington dan Teheran.
Jika serangan lintas wilayah terus terjadi, negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS berpotensi semakin terseret ke dalam konflik meskipun tidak terlibat langsung dalam permusuhan kedua negara.
Serangan AS di Iran Dilaporkan Tewaskan Warga Sipil
Eskalasi terbaru dipicu serangan Amerika Serikat di wilayah selatan Iran yang dilaporkan menimbulkan korban sipil.
Bulan Sabit Merah Iran menyatakan lima orang, termasuk seorang anak, tewas dan lebih dari 50 lainnya terluka setelah serpihan rudal AS menghantam sebuah rumah yang tengah digunakan untuk acara pernikahan di Sirik.
Sirik berada di pesisir selatan Iran, tidak jauh dari kawasan strategis Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran dan Bulan Sabit Merah Iran juga melaporkan sejumlah fasilitas sipil di pesisir selatan menjadi sasaran serangan. Ledakan dilaporkan terdengar di Pulau Qeshm dan Bandar Abbas, sementara proyektil disebut menghantam kawasan Chabahar, Konarak serta sebuah bandara di Jiroft.
Namun, Amerika Serikat membantah menargetkan warga sipil.
Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins yang mewakili Centcom mengatakan pihaknya mengetahui laporan mengenai insiden di Sirik.
“Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, tidak seperti IRGC,” ujarnya.
AS Klaim Serangan sebagai Respons terhadap IRGC
Centcom mengatakan operasi militer terbaru terhadap Iran dimulai sekitar pukul 12.00 waktu Amerika Serikat bagian Timur dan berakhir pada Rabu dini hari.
Menurut Centcom, operasi tersebut merupakan respons terhadap sejumlah upaya serangan yang disebut dilakukan IRGC terhadap kapal komersial di Selat Hormuz serta pasukan Amerika Serikat di kawasan.
Washington sebelumnya juga kembali menyerang Iran setelah jeda sekitar satu bulan. AS menyatakan pasukannya menghantam dua peluncur roket yang digunakan untuk memasang ranjau di Selat Hormuz.
Teheran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal ke pangkalan udara di Yordania serta mengerahkan drone ke wilayah Uni Emirat Arab.
Rangkaian serangan tersebut menunjukkan eskalasi konflik AS-Iran semakin meluas dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan di kawasan Teluk. (*)
Editor : Jamil Qasim