Banjir Bandang Nepal-China Tewaskan 1.280 Orang, Lebih dari 5.600 Masih Hilang

Antara • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 16:01 WIB
Evakuasi korban pasca banjir
Evakuasi korban pasca banjir. Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan longsor dahsyat yang melanda wilayah Nepal dan China terus bertambah.

batampos — Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan longsor dahsyat yang melanda wilayah Nepal dan China terus bertambah. Hingga Kamis (3/9), sedikitnya 1.280 orang tewas, sementara lebih dari 5.620 orang masih dinyatakan hilang.

Operasi pencarian dan penyelamatan kini memasuki pekan kedua. Tim penyelamat masih menyisir sejumlah wilayah terdampak, meski menghadapi medan yang sulit akibat jalan, jaringan listrik, dan komunikasi yang terputus.

Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Nepal (NDRRMA) melaporkan 1.259 orang tewas dan 5.083 lainnya masih hilang. Dari jumlah korban hilang tersebut, sebanyak 583 orang merupakan warga negara asing. Lebih dari 21.400 personel keamanan telah dikerahkan untuk membantu pencarian, penyelamatan, dan distribusi bantuan. 

Sementara itu, di wilayah Tibet, China, otoritas setempat melaporkan 21 orang tewas dan 541 orang masih hilang, termasuk 261 warga negara asing. Dengan demikian, total korban tewas di kedua negara mencapai 1.280 orang. 

Keluarga Gelar Pemakaman Simbolis

Besarnya jumlah korban hilang membuat sejumlah keluarga di Nepal mulai menggelar upacara pemakaman simbolis bagi anggota keluarga mereka yang belum ditemukan.

Di Rasuwa, salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah, keluarga korban membuat patung pemakaman dari kaas-kush, atau rumput suci, kemudian melakukan ritual untuk membebaskan jiwa kerabat mereka yang hilang.

Langkah tersebut dilakukan karena sebagian keluarga mulai kehilangan harapan untuk menemukan jenazah kerabat mereka.

Pada Rabu (2/9), puluhan patung tersebut dikremasi dalam upacara pemakaman massal di Kuil Pashupati Aryaghat, yang berada di tepi Sungai Bagmati, Kathmandu.

Di Chitwan, daerah lain yang terdampak parah, otoritas setempat juga menangani jasad-jasad yang belum teridentifikasi. Sampel DNA dikumpulkan untuk membantu proses identifikasi sebelum jasad dimakamkan atau dikremasi.

Kondisi di sejumlah distrik semakin menyulitkan keluarga korban. Banjir bandang menghanyutkan rumah dan fasilitas umum sehingga sebagian warga kehilangan tempat untuk melakukan ritual pemakaman.

Operasi Pencarian Terus Berlanjut

Personel militer, kepolisian, dan tim penyelamat masih melanjutkan pencarian korban di berbagai wilayah terdampak. Operasi dilakukan menggunakan berbagai cara, termasuk helikopter dan jalur tali untuk menjangkau daerah yang sulit diakses. 

Tim penyelamat juga terus mengirimkan bantuan kemanusiaan dan menjaga kebersihan di lokasi pengungsian guna mengurangi risiko penyebaran penyakit.

Di sejumlah lokasi, pencarian masih difokuskan pada pekerja pembangkit listrik tenaga air yang diduga terjebak di dalam terowongan yang tertimbun material banjir dan longsor. Harapan untuk menemukan korban selamat masih ada karena beberapa bagian terowongan diperkirakan memiliki ruang yang belum sepenuhnya terendam.

Berawal dari Runtuhan Gletser

Bencana tersebut terjadi pada 26 Agustus di kawasan perbatasan Nepal dan China. Runtuhan gletser dan material bebatuan memicu aliran air, lumpur, serta puing-puing dalam jumlah besar yang kemudian menyapu lembah dan permukiman di sepanjang kawasan perbatasan.

Banjir bandang dan longsor menghantam sejumlah distrik di Nepal, termasuk Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan Kavre, serta wilayah Lembah Kathmandu. Di sisi China, bencana turut berdampak pada kawasan Tibet, termasuk titik lintas batas Gyirong.

Rasuwa menjadi salah satu wilayah dengan kerusakan terparah. Infrastruktur, jalan, jembatan, permukiman, serta sejumlah proyek pembangkit listrik mengalami kerusakan berat.

Bencana tersebut juga memutus akses menuju sejumlah daerah sehingga memperlambat proses evakuasi dan pendataan korban. (*)

Editor : Jamil Qasim
Banjir Bandang Nepal-China 5.600 Masih Hilang