Karhutla Indonesia Picu Kabut Asap, Filipina Liburkan Sekolah di 17 Wilayah

jpg • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 20:01 WIB
 Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berpotensi terbawa hingga wilayah negara tetangga. Kondisi tersebut turut menjadi pertimbangan pemerintah Filipina menangguhkan pembelajaran tatap muka di 17 wilayah.
 Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berpotensi terbawa hingga wilayah negara tetangga. Kondisi tersebut turut menjadi pertimbangan pemerintah Filipina menangguhkan pembelajaran tatap muka di 17 wilayah.

batampos — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia turut berdampak ke negara tetangga. Pemerintah Filipina menangguhkan pembelajaran tatap muka di sejumlah wilayah Luzon pada Jumat (4/9), menyusul kombinasi hujan lebat dan memburuknya kualitas udara akibat kabut asap yang terbawa dari Indonesia.

Penangguhan pembelajaran berlaku di 17 wilayah, termasuk National Capital Region (Metro Manila), Ilocos Norte, Ilocos Sur, La Union, Pangasinan, Abra, Benguet, Zambales, Bataan, Bulacan, Tarlac, Pampanga, Cavite, Laguna, Batangas, dan Occidental Mindoro.

Kebijakan tersebut dituangkan dalam Memorandum Circular No. 134. Pemerintah Filipina menginstruksikan sekolah menerapkan metode pembelajaran alternatif untuk memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung di seluruh jenjang pendidikan, baik negeri maupun swasta.

Asap Karhutla Indonesia Jadi Pertimbangan

Pemerintah Filipina menyebut keputusan penghentian sementara pembelajaran tatap muka tidak hanya dipicu cuaca ekstrem. Sejumlah wilayah juga mengalami penurunan kualitas udara akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan serta Sumatera, Indonesia.

Kabut asap tersebut terbawa angin hingga wilayah Filipina dan turut memengaruhi kualitas udara. Di saat yang sama, sejumlah wilayah diperkirakan masih menghadapi hujan lebat akibat penguatan Southwest Monsoon atau monsun barat daya.

Penangguhan pembelajaran tatap muka dilakukan berdasarkan rekomendasi badan penanggulangan bencana Filipina.

Pemerintah Filipina menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena keselamatan siswa dan tenaga pendidik harus menjadi prioritas di tengah cuaca buruk dan kualitas udara yang menurun.

Kepala Daerah Bisa Hentikan Sekolah

Pemerintah Filipina juga memberikan kewenangan kepada kepala daerah untuk menangguhkan kegiatan sekolah di wilayah lain apabila kondisi setempat dinilai membahayakan siswa maupun tenaga pendidikan.

“Selain itu, peliburan atau penghentian kegiatan sekolah secara lokal di daerah lain dapat dilakukan oleh kepala daerah masing-masing, sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku,” demikian bunyi memorandum tersebut.

Dengan ketentuan itu, pemerintah daerah dapat mengambil keputusan sendiri untuk membatalkan atau menangguhkan pembelajaran tatap muka berdasarkan kondisi di wilayah masing-masing.

Dampak karhutla Indonesia pun terlihat semakin luas. Persoalan asap tidak hanya dirasakan masyarakat di wilayah yang menjadi lokasi kebakaran, tetapi juga dapat melintasi batas negara dan mengganggu aktivitas masyarakat di negara tetangga.

Bagi Filipina, kombinasi kabut asap dari Indonesia dan hujan lebat menjadi pertimbangan untuk mengalihkan sementara pembelajaran tatap muka ke metode alternatif.

Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga keberlangsungan proses pendidikan sekaligus melindungi keselamatan siswa dan tenaga pendidik dari kondisi lingkungan yang dinilai kurang aman. (*)

 

Editor : Jamil Qasim
Filipina Liburkan Sekolah kabut asap