Korsel Bersiap Kirim Pasukan ke Selat Hormuz, Ada Apa?

jpg • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 06:51 WIB
Kondisi Kapal Induk USS Abraham Lincoln milik AS tampak mulai berkarat usai bertugas, termasuk dari kawasan Hormuz. Foto: USA Today
Kondisi Kapal Induk USS Abraham Lincoln milik AS tampak mulai berkarat usai bertugas, termasuk dari kawasan Hormuz. Foto: USA Today

batampos – Militer Korea Selatan mulai melakukan persiapan konkret untuk kemungkinan mengerahkan personel angkatan laut ke Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik paling sensitif di Timur Tengah.

Langkah tersebut muncul di tengah ketegangan yang masih berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sekaligus meningkatnya tekanan dari Washington agar negara-negara sekutu mengambil peran lebih besar dalam menjaga stabilitas kawasan.

Seorang pejabat Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan mengatakan persiapan operasional telah dimulai, termasuk penyusunan kebutuhan personel dan peralatan militer.

"Kami sedang membuat persiapan konkret untuk mengerahkan pasukan angkatan laut ke Selat Hormuz," kata pejabat tersebut kepada SBS Australia, dikutip Kamis.

Dalam skenario pengerahan, Korea Selatan disebut akan mengirim pesawat patroli maritim P-8, satuan penjinak bahan peledak (EOD), serta kapal pendukung logistik guna mendukung operasi di kawasan.

Sebelumnya, Seoul menyatakan pengerahan pasukan baru akan dipertimbangkan setelah konflik bersenjata antara AS dan Iran berakhir. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan pemerintah mulai menyiapkan berbagai aspek operasional sebagai langkah antisipatif.

Seorang pejabat senior militer Korea Selatan juga mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai penggunaan pangkalan laut dan pangkalan operasional telah dilakukan bersama sejumlah negara mitra.

Meski demikian, pengerahan militer belum dapat dilakukan dalam waktu dekat. Pemerintah Korea Selatan masih harus memperoleh persetujuan Dewan Keamanan Nasional, keputusan kabinet, serta restu dari Majelis Nasional sebelum pasukan dapat diberangkatkan.

Tekanan dari Donald Trump

Rencana tersebut mencuat setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengkritik Korea Selatan karena dinilai belum berkontribusi secara signifikan dalam operasi menghadapi Iran.

Tekanan Washington juga meningkat setelah AS mengurangi sebagian partisipasinya dalam latihan militer gabungan dengan Korea Selatan.

Di sisi lain, laporan The Wall Street Journal menyebut Trump sedang berdiskusi secara tertutup dengan para penasihat senior mengenai kemungkinan mengakhiri operasi militer AS terhadap Iran.

Dalam pembahasan tersebut, Trump dikabarkan mendukung penghentian konflik bersenjata, namun tetap meyakini tekanan ekonomi dapat memaksa Iran menghentikan program nuklirnya atau melemahkan pemerintahan Teheran.

Para penasihat Gedung Putih juga mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan berpotensi memengaruhi posisi Partai Republik dalam pemilu paruh waktu AS yang akan digelar pada November mendatang.

Meski demikian, laporan tersebut menyebut pertimbangan politik bukan menjadi faktor utama dalam proses pengambilan keputusan Trump terkait perang.

Militer AS Tetap Bertahan di Timur Tengah

Di tengah wacana penghentian operasi militer, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dilaporkan secara diam-diam memperpanjang masa penugasan pasukan Amerika di Timur Tengah.

Kondisi tersebut membuka kemungkinan kehadiran militer AS di kawasan berlanjut hingga tahun depan.

Tanpa batas waktu operasi yang pasti, Washington masih memiliki ruang untuk melanjutkan berbagai opsi militer. Namun, pengerahan jangka panjang juga meningkatkan risiko kelelahan personel serta penurunan kesiapan peralatan tempur.

Laporan menyebut sekitar 50.000 personel militer AS dan sedikitnya 19 kapal perang saat ini berada di kawasan Timur Tengah. Armada tersebut terdiri atas dua kapal induk dan 13 kapal penghancur berpeluru kendali yang menjalankan berbagai misi, termasuk operasi blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Beberapa unit pertahanan udara bahkan telah bertugas selama sekitar 12 bulan, lebih lama dibandingkan masa penugasan normal yang berkisar sembilan bulan.

Selat Hormuz Kembali Menjadi Sorotan

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk.

Setiap peningkatan aktivitas militer di wilayah tersebut berpotensi memengaruhi keamanan pelayaran internasional, distribusi energi global, hingga stabilitas harga minyak dunia.

Jika Korea Selatan benar-benar mengerahkan pasukannya, langkah tersebut akan menambah dimensi baru dalam dinamika keamanan Timur Tengah sekaligus menunjukkan semakin besarnya keterlibatan negara-negara sekutu AS di kawasan strategis tersebut. (*)

Editor : Putut Ariyo
korea selatan amerika serikat selat hormuz donald trump iran