AS Akui Tempatkan Senjata di Orbit, Tiongkok Peringatkan Perlombaan Senjata Antariksa

JawaPos • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 16:05 WIB

 

Peluncuran roket Atlas V milik United Launch Alliance membawa muatan rahasia untuk Angkatan Antariksa AS dari Cape Canaveral, Florida, pada 2024 / Foto: (The Guardian)
Peluncuran roket Atlas V milik United Launch Alliance membawa muatan rahasia untuk Angkatan Antariksa AS dari Cape Canaveral, Florida, pada 2024 / Foto: (The Guardian)

 batampos - Ruang angkasa semakin terbuka menjadi medan persaingan militer. Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya mengonfirmasi telah menempatkan senjata di orbit Bumi, sementara Tiongkok dan Rusia terus mengembangkan kemampuan yang dapat digunakan untuk mengganggu atau menyerang satelit dalam konflik masa depan.

Pengakuan Washington menunjukkan semakin pentingnya orbit Bumi dalam persaingan militer. Satelit menjadi bagian penting dalam komunikasi, navigasi, hingga pengawasan.

Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink mengatakan senjata yang disebut on-orbit space control weapons diperlukan untuk melindungi pasukan AS dari tindakan musuh. Namun, ia tidak menjelaskan jenis senjata, kemampuan, maupun waktu penempatan sistem tersebut di orbit.

Meink hanya menyebut AS harus siap menghadapi “ancaman yang terus berkembang” di ruang angkasa.

Dilansir BBC, Rabu (16/9/2026), Meink menyampaikan pengakuan tersebut dalam konferensi Air, Space and Cyber di Maryland, Senin. Pernyataan itu menjadi pengakuan publik pertama Washington bahwa kemampuan ofensif berbasis ruang angkasa telah ditempatkan di orbit.

Sebelumnya, sejumlah pejabat militer AS telah menyerukan penguatan kemampuan antariksa dengan alasan Tiongkok dan Rusia mengembangkan teknologi untuk menyerang atau mengganggu satelit AS dalam konflik di masa depan.

Namun, bentuk dan kemampuan senjata yang ditempatkan AS tersebut masih belum jelas. Juru bicara US Space Force menjelaskan bahwa kendali ruang angkasa mencakup misi untuk menandingi dan mengendalikan domain antariksa dengan menggunakan sarana kinetik maupun nonkinetik.

Baca Juga: Tiongkok Perketat Aturan Keluar-Masuk, WNA Bisa Dicekal 5 Tahun

Kemampuan tersebut, menurutnya, dapat digunakan untuk memengaruhi kemampuan lawan melalui gangguan, degradasi, bahkan penghancuran jika diperlukan. Sistem itu juga dapat digunakan untuk tujuan ofensif maupun defensif atas arahan komando tempur.

Karena Washington belum mengungkap bentuk senjatanya, para ahli baru dapat memperkirakan jenis sistem yang dimaksud. Pakar penggunaan militer ruang angkasa dari Royal United Services Institute, Bleddyn Bowen, mengatakan informasi publik mengenai teknologi tersebut “sangat sedikit” dan dapat mencakup berbagai macam sistem senjata.

Kepada BBC Radio 4, Bowen menegaskan dirinya “benar-benar hanya menebak” ketika memperkirakan sistem tersebut.

Salah satu kemungkinan, menurut Bowen, adalah platform peperangan elektronik atau pengacauan radio. Sistem semacam itu dapat mengganggu komunikasi satelit tanpa menghancurkannya secara fisik.

Kemungkinan lainnya ialah kendaraan penghancur kinetik, yakni wahana yang melepaskan proyektil untuk menabrak dan menghancurkan satelit. Namun, opsi tersebut dinilai lebih kecil kemungkinannya karena serangan fisik terhadap satelit dapat menghasilkan banyak puing antariksa.

Baca Juga: Iran Balas Serangan AS, Rudal dan Drone Sasar Target Amerika di Empat Negara

Pengumuman AS tersebut langsung mendapat respons dari Tiongkok. Beijing memperingatkan risiko perlombaan senjata di ruang angkasa.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, seperti dikutip AFP dan dilansir BBC, mengatakan, “Kami mendesak pihak AS menghentikan perluasan kemampuan militernya dan persiapan perang di luar angkasa.”

Respons tersebut menambah perhatian terhadap potensi persaingan strategis antara kekuatan besar di orbit Bumi. (*)

Editor : Yofi Yuhendri
Ruang Angkasa Senjata Antariksa tiongkok amerika serikat satelit