batampos - Pendiri Microsoft Bill Gates memperingatkan perusahaan teknologi dan para pemimpin dunia agar kecerdasan buatan (AI) tidak memperlebar kesenjangan sosial. Melalui Gates Foundation, Gates menyiapkan dana sedikitnya USD1 miliar atau sekitar Rp17,64 triliun dengan kurs Rp17.640 per dolar AS untuk memperluas akses AI selama dua tahun ke depan.
Dana tersebut akan diarahkan terutama untuk bidang kesehatan, pendidikan, pertanian, dan pengembangan bahasa lokal. Fokusnya bukan hanya mempercepat penggunaan AI, tetapi memastikan manfaat teknologi tersebut dapat menjangkau masyarakat yang selama ini tertinggal.
Dana itu diumumkan bersamaan dengan laporan tahunan Goalkeepers yang mengukur kemajuan target pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hingga 2030.
Dilansir dari AP News, Rabu (16/9/2026), Gates menilai AI dapat menjadi alat untuk mempersempit kesenjangan. Namun, mekanisme pasar berisiko membuat manfaat teknologi lebih dulu dinikmati kelompok yang mampu membayarnya.
“Begitulah ketimpangan berlipat ganda: teknologi yang membuat hidup lebih mudah, meningkatkan produktivitas, dan terkadang bahkan menyelamatkan nyawa, pertama-tama hadir bagi orang-orang yang sudah memiliki segalanya,” tulis Gates dalam laporan Goalkeepers.
Peringatan tersebut muncul ketika perdebatan mengenai dampak AI semakin meluas. Dalam tulisannya bulan lalu, Gates menyebut AI dapat menjadi “penyetara terbesar” atau “sumber ketidakadilan terburuk”.
Baca Juga: AS Akui Tempatkan Senjata di Orbit, Tiongkok Peringatkan Perlombaan Senjata Antariksa
Ia juga memperingatkan teknologi yang sama berpotensi memperkuat penipuan, disinformasi, pengawasan, serangan siber, hingga bioterorisme.
Karena itu, Gates Foundation memilih memperluas akses AI, bukan hanya membiayai pengamanannya. Sekitar USD100 juta atau Rp1,764 triliun dialokasikan untuk membangun kumpulan data dalam bahasa yang kurang terwakili, termasuk bahasa komunitas di Afrika.
Langkah tersebut ditujukan agar model AI tidak hanya bekerja optimal dalam bahasa Inggris dan, pada tingkat tertentu, Mandarin.
CEO Gates Foundation Mark Suzman mengatakan AI harus dapat digunakan dalam konteks lokal agar mampu mempercepat pembangunan.
“Kami belum menyerah pada AS,” kata Suzman kepada AP. Pernyataan tersebut merujuk pada upaya yayasan mendorong Kongres dan pemerintahan Presiden Donald Trump tetap mendukung bantuan luar negeri meski terjadi pemangkasan anggaran bantuan internasional.
Namun, memperbanyak data tidak otomatis membuat AI lebih adil. Jonathan Shaffer, sosiolog University of Vermont, memperingatkan bahwa lemahnya infrastruktur kesehatan di banyak negara dapat membuat kelompok paling terpinggirkan tetap tidak terwakili dalam data.
Kondisi tersebut, menurut Shaffer, “bahkan dapat memperkuat jenis ketimpangan” yang hendak dikurangi yayasan. (*)
Editor : Yofi Yuhendri