Rudal Sasar Sekolah di Iran, Misi PBB Sebut AS Mungkin Lakukan Kejahatan Perang

JawaPos • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 14:20 WIB

 

 

Para perempuan berada di depan gambar yang menampilkan murid-murid sekolah dasar Minab yang tewas dalam serangan udara AS pada 28 Februari, di Minab, Iran. (Majid Asgaripour/WANA/Reuters)
Para perempuan berada di depan gambar yang menampilkan murid-murid sekolah dasar Minab yang tewas dalam serangan udara AS pada 28 Februari, di Minab, Iran. (Majid Asgaripour/WANA/Reuters)

batampos - Misi pencari fakta independen yang mendapat mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Amerika Serikat mungkin telah melakukan kejahatan perang dalam dua serangan di Iran pada Februari 2026.

Dua serangan tersebut menyasar sebuah sekolah dasar di Minab dan kompleks olahraga di Lamerd. Sedikitnya 178 warga sipil dilaporkan tewas dalam dua serangan tersebut.

Temuan itu disampaikan Independent International Fact-Finding Mission on the Islamic Republic of Iran setelah melakukan penyelidikan selama berbulan-bulan.

Misi tersebut menemukan dasar yang masuk akal untuk menyimpulkan bahwa pasukan AS bertindak secara “recklessly” atau dengan mengabaikan risiko serius terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran hukum humaniter internasional.

Penyelidik tidak memperoleh akses kepada personel AS maupun Israel. Mereka juga tidak menerima tanggapan atas permintaan informasi yang diajukan.

Karena itu, penyelidikan mengandalkan sejumlah sumber, termasuk citra satelit, video yang telah diverifikasi, analisis senjata, keterangan saksi, serta informasi dari organisasi independen.

Sekolah di Minab Dihantam Dua Kali

Serangan pertama terjadi pada 28 Februari 2026 sekitar pukul 10.30 waktu setempat di Shajareh Tayyebeh Primary School di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan.

Sekolah tersebut berada sekitar 72 meter dari fasilitas angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Namun, berdasarkan penyelidikan misi PBB, sekolah dan fasilitas militer tersebut dipisahkan tembok dan memiliki pintu masuk berbeda. Citra satelit juga menunjukkan lokasi tersebut sebagai fasilitas pendidikan yang aktif, dengan mural anak-anak, taman bermain, dan ruang kelas.

Misi PBB menyatakan sekolah dihantam dua kali. Rudal pertama mengenai bagian bawah bangunan. Ketika staf sekolah memindahkan anak-anak ke ruang salat di lantai atas, serangan kedua menghantam bagian tersebut.

Pejabat setempat melaporkan 156 orang tewas, termasuk 120 anak sekolah dan 26 guru perempuan. Sumber independen yang dikutip misi PBB mencatat angka 157 korban meninggal.

Analisis pecahan senjata di lokasi mengidentifikasi salah satu rudal yang digunakan sebagai Tomahawk Land Attack Missile buatan Amerika Serikat. Iran diketahui tidak memiliki rudal jenis tersebut.

Misi PBB menyimpulkan bahwa AS gagal melakukan langkah yang memungkinkan untuk memastikan sekolah tersebut merupakan sasaran militer sebelum serangan dilakukan.

“Mission concluded that when identifying and directing its attack against the primary school in Minab, whose civilian nature is apparent, the US failed in its obligation to do everything feasible to verify that it was a military objective,” demikian kesimpulan yang dikutip dari laporan misi tersebut.

Misi PBB juga merujuk laporan The New York Times dan Reuters mengenai penyelidikan awal Pentagon. Informasi yang digunakan untuk menentukan sasaran disebut sudah tidak mutakhir sehingga sekolah secara keliru diidentifikasi sebagai bagian dari fasilitas militer di dekatnya.

Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, pada 19 Mei mengatakan temuan awal Pentagon berkorelasi dengan serangan yang dilakukan pasukan AS.

Pada Juni, Presiden AS Donald Trump mengatakan tidak ada pihak yang sengaja menyerang sekolah tersebut. Namun, misi PBB menekankan bahwa persoalannya bukan hanya apakah serangan tersebut sengaja diarahkan untuk membunuh anak-anak.

Pertanyaan utamanya adalah apakah pasukan AS telah mengambil langkah yang cukup untuk memastikan sasaran yang diserang merupakan objek militer.

Kompleks Olahraga Lamerd Ikut Diserang

Serangan kedua terjadi sekitar pukul 17.10 waktu setempat pada 28 Februari di Shahid Haj Khalil Naimi Cultural and Sports Complex, Lamerd, Provinsi Fars.

Misi PBB menyatakan fasilitas olahraga tersebut tidak memiliki fungsi militer.

Video yang telah diverifikasi menunjukkan sebuah rudal meledak di dekat kawasan permukiman. Rudal kedua kemudian meledak tepat di atas kompleks olahraga.

Pejabat setempat melaporkan 22 orang tewas, termasuk empat anak-anak, sementara lebih dari 100 orang terluka. Sebuah sekolah di sekitar lokasi juga mengalami kerusakan.

Berbeda dengan serangan di Minab, Amerika Serikat membantah bertanggung jawab atas serangan Lamerd.

CENTCOM menyatakan kerusakan di lokasi konsisten dengan penggunaan rudal jelajah Hoveyzeh milik Iran. Namun, misi PBB menolak kesimpulan tersebut.

Analisis pakar senjata yang digunakan penyelidik menemukan perbedaan desain yang, menurut laporan misi, menyingkirkan kemungkinan penggunaan Hoveyzeh. Analisis tersebut justru mengarah pada Precision Strike Missile buatan AS.

Gedung Putih Tolak Temuan Misi PBB

Pemerintahan Trump menolak temuan misi PBB tersebut.

Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Anna Kelly mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Dewan Hak Asasi Manusia PBB tidak serius dalam menjalankan mandatnya.

Kelly juga mengatakan pemerintah AS menilai pemerintah Iran sebagai pihak yang melakukan kejahatan perang dalam konflik tersebut.

Menurut Kelly, kebijakan Presiden Trump bertujuan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.

Pernyataan Gedung Putih tersebut bertolak belakang dengan kesimpulan misi pencari fakta PBB yang menyebut terdapat dasar yang masuk akal untuk meyakini bahwa AS melakukan serangan secara reckless dalam dua kasus tersebut.

Apa Arti Temuan PBB bagi AS?

Dalam hukum humaniter internasional, pihak yang terlibat konflik bersenjata wajib membedakan sasaran militer dan objek sipil. Mereka juga harus mengambil langkah yang memungkinkan untuk memastikan sasaran sebelum melancarkan serangan.

Misi PBB menilai unsur “recklessness” menjadi salah satu persoalan penting dalam dua serangan tersebut. Istilah itu merujuk pada tindakan yang dilakukan dengan mengetahui adanya risiko serius terhadap terjadinya pelanggaran hukum, tetapi serangan tetap dilanjutkan.

Dalam kasus Minab, misi tersebut menyoroti penggunaan informasi sasaran yang sudah kedaluwarsa serta karakter sekolah yang secara jelas menunjukkan fungsi sipilnya.

Berdasarkan penyelidikan tersebut, misi PBB menyatakan tindakan AS memenuhi unsur mental recklessness yang relevan secara hukum dan bahwa kegagalan memperbarui informasi sasaran melampaui sekadar kelalaian.

Misi tersebut kemudian menyimpulkan bahwa kedua serangan dapat memenuhi ambang hukum sebagai kejahatan perang berupa serangan terhadap warga sipil atau objek sipil.

Namun, temuan misi PBB tidak secara otomatis menghasilkan hukuman terhadap Amerika Serikat. Laporan tersebut dapat menjadi bahan bagi proses hukum atau mekanisme lain, sementara konsekuensi akhirnya bergantung pada yurisdiksi dan mekanisme hukum yang tersedia.

Misi PBB menyerukan penghentian permusuhan antara AS dan Iran, pemberian reparasi kepada para korban, serta pembukaan jalur diplomatik menuju perdamaian jangka panjang.

Bagi para korban di Minab dan Lamerd, temuan tersebut kembali menyoroti persoalan perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata, termasuk bagaimana fasilitas sipil dapat menjadi sasaran serangan dan bagaimana pertanggungjawaban atas korban kemudian ditentukan.(*)

Editor : Cipi Ckandina
Rudal C-705 Sasar Sekolah Misi PBB iran