batampos - Tentara Iran menggelar pawai militer di Teheran dengan membawa dua peti mati simbolis bergambar Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Aksi tersebut menjadi bagian dari unjuk kekuatan Iran di tengah meningkatnya ketegangan dan ancaman konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Dua peti mati itu dibawa anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam pawai pada Jumat. Masing-masing peti mati diberi nama dan gambar Trump serta Netanyahu, kemudian ditutup dengan bendera AS dan Israel.
Selain membawa peti mati simbolis, sejumlah peserta juga menginjak-injak bendera AS dan Israel. Massa meneriakkan slogan "Death to America" dan "Death to Israel" selama pawai berlangsung.
Menurut Korps Mohammad Rasulullah Raya Teheran, pawai tersebut merupakan demonstrasi kekuatan militer dan kemampuan pertahanan Iran untuk menghadapi kemungkinan konflik dengan AS dan Israel.
Pawai digelar ketika Iran menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi baru AS dan blokade laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Pada hari yang sama, Iran juga mengklaim terjadi serangan terhadap sebuah kapal tanker di Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut menjadi salah satu titik penting di tengah ketegangan antara Iran dan negara-negara yang menjadi lawannya.
Iran Kerahkan Relawan untuk Latihan Militer
Selain menggelar pawai, Teheran juga menunjukkan upaya memperkuat pertahanan dengan merekrut warga untuk mengikuti pelatihan militer terbatas.
Program yang disebut Janfaday-e Iran, yang berarti orang-orang yang siap mengorbankan hidup untuk Iran, melibatkan warga yang berjalan di pusat Kota Teheran dengan mengenakan seragam tempur dan membawa bendera.
Media pemerintah Iran sebelumnya mendorong masyarakat untuk mengikuti program tersebut. Para relawan disebut akan mendapatkan pelatihan menggunakan senapan serbu dan menjadi lapisan tambahan pertahanan di luar IRGC dan milisi Basij.
Kepala IRGC Teheran, Jenderal Hassan Hassanzadeh, mengatakan lebih dari 600.000 orang telah mendaftarkan diri. Jumlah peserta yang diharapkan mengikuti pelatihan disebut dapat mencapai lebih dari 1 juta orang.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran memperkirakan lebih dari 300.000 orang berada di jalan-jalan Teheran pada Jumat pagi.
Basij Sebut Relawan Akan Jadi "Mimpi Buruk"
Kepala baru Basij, Hossein Taeb, mengatakan para relawan akan dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan serangan terhadap Iran.
"Pertahanan penuh," kata Taeb dalam pidatonya ketika pawai dimulai. Ia juga mengatakan aksi serupa akan digelar di sejumlah kota lainnya.
Taeb menyebut peserta pelatihan nantinya akan menjadi "nightmare" atau "mimpi buruk" bagi musuh Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, para komandan militer, dan sejumlah pejabat senior turut menyaksikan pawai tersebut.
Pawai juga menjadi ajang bagi Iran untuk memperlihatkan sejumlah peralatan militernya. Baterai antipesawat dipamerkan, sementara anggota Garda Revolusi perempuan dengan kerudung hitam terlihat berada di sekitar kendaraan yang membawa senapan mesin.
Peserta Pawai: Iran Tidak Takut Ancaman Trump
Sejumlah peserta mengatakan kehadiran mereka dalam pawai merupakan bentuk penolakan terhadap ancaman AS.
"Saya di sini untuk memberi tahu Trump bahwa kami warga Iran tidak takut dengan ancamannya terhadap tanah air kami," kata Marzieh Afaghi, 24 tahun, yang menghadiri pawai bersama suami dan anaknya.
"Tidak ada seorang pun dalam sejarah yang bisa menyerang Iran dan tetap tinggal di sana," lanjutnya.
Pawai dengan peti mati simbolis Trump dan Netanyahu tersebut menjadi bagian dari rangkaian aksi Iran untuk menunjukkan sikap pemerintah dan mobilisasi masyarakat di tengah meningkatnya ketegangan.
Melalui pawai militer, program pelatihan relawan, serta pameran peralatan pertahanan, Teheran memperlihatkan pesan kesiapan menghadapi kemungkinan konflik lebih lanjut dengan AS dan Israel. (*)
Editor : Cipi Ckandina