AS Sebut Pintu Negosiasi Tetap Terbuka bagi Iran untuk Akhiri Konflik

Antara • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 18:01 WIB
Ilustrasi drone Iran. (IranWire)
Ilustrasi drone Iran. (IranWire)

batampos — Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mike Waltz menyatakan pintu perundingan tetap terbuka bagi Iran untuk kembali ke meja negosiasi guna mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Pernyataan itu disampaikan Waltz dalam acara Al-Monitor Live di sela-sela Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York, Minggu (20/9).

Waltz mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump meyakini waktu berada di pihak Amerika Serikat dalam menghadapi Iran. Konflik kedua negara tersebut disebut telah berlangsung sejak 28 Februari.

"Saya yakin memang demikian," kata Waltz ketika ditanya penasihat senior Al-Monitor, Andrew Parasiliti, apakah AS meyakini waktu berpihak kepada mereka.

Waltz kembali menegaskan bahwa Iran masih memiliki kesempatan untuk kembali ke meja perundingan. Ia juga membantah laporan yang menyebut Teheran mensyaratkan pencabutan sanksi AS dan pembayaran ganti rugi sebelum pembicaraan dimulai kembali.

Menurut Waltz, laporan tersebut tidak berdasar.

"Rezim Iran saat ini berada di titik terlemahnya sejak 1979 dan kondisinya semakin melemah," ujarnya, merujuk pada tekanan ekonomi dan pelemahan mata uang Iran.

"Mereka akan kembali (ke meja perundingan), yang saya harap berlangsung secara damai dan diplomatis," tambahnya.

AS Bahas Rencana Gaza

Mengenai situasi di Gaza, Waltz menggambarkan pendekatan pemerintahan AS sebagai "jenis multilateralisme baru".

Ia mengatakan pembicaraan dengan Israel mengenai pelaksanaan rencana 20 poin Presiden Donald Trump untuk Gaza dapat dilanjutkan setelah pemilu parlemen Israel pada 27 Oktober.

Rencana tersebut mencakup pembentukan pemerintahan teknokratis Palestina, pembangunan kembali Gaza, serta pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional.

Namun, pembahasan mengenai pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel masih menghadapi kebuntuan.

Waltz juga menyebut terdapat sejumlah "calon anggota" yang tertarik bergabung dengan Perjanjian Abraham, yang bertujuan menormalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara. Namun, ia tidak menyebutkan negara mana saja yang dimaksud.

Ia turut menyambut keputusan Israel dan Maroko pada awal September untuk saling menempatkan duta besar sebagai bagian dari hubungan diplomatik kedua negara.

Soroti Pengaruh Iran di Irak

Sementara terkait Irak, Waltz memuji upaya Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi untuk menempatkan kelompok-kelompok milisi yang didukung Iran di bawah kendali negara.

Menurut dia, melemahnya pengaruh Iran dapat membuka peluang bagi pemerintah Irak untuk membatasi pengaruh kelompok-kelompok yang selama ini mendapat dukungan dari Teheran. (*)

Editor : Jamil Qasim
Duta Besar Amerika Serikat iran