batampos - Tanaman tetap bisa tumbuh meski jauh dari tanah, hujan, dan udara seperti di Bumi. Di dalam stasiun luar angkasa Tiangong milik China, selada, wortel, bunga matahari, kentang hingga gandum menjadi bagian dari eksperimen untuk menguji kemampuan manusia bertahan hidup dalam misi jangka panjang di luar Bumi.
Eksperimen tersebut kini memasuki tahap baru. China telah membudidayakan lebih dari 20 varietas yang mencakup 14 spesies tanaman di orbit.
Capaian itu menjadi bagian dari pengembangan sistem produksi tanaman yang diharapkan dapat mendukung kebutuhan pangan astronaut sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari Bumi.
20 Varietas Tanaman Diuji di Tiangong
Pusat Astronaut China memaparkan perkembangan eksperimen tersebut dalam konferensi teknik kedokteran kedirgantaraan di Tianjin, China utara.
Dalam konferensi itu, Zhang Hongzhang, astronaut misi berawak Shenzhou-21, membagikan foto dan video tanaman yang tumbuh di dalam fasilitas yang disebut sebagai ”kebun luar angkasa” Tiangong.
Eksperimen tersebut bukan sekadar upaya menanam sayuran di orbit. Para peneliti mengembangkan sistem yang memungkinkan tanaman menjadi bagian dari sistem pendukung kehidupan manusia di luar Bumi.
”Tinggal dalam jangka panjang di luar angkasa mengharuskan kami mengurangi ketergantungan pada pasokan dari Bumi. Eksperimen pendukung kehidupan ekologis terkendali yang kami lakukan bertujuan membangun ekosistem di luar angkasa yang dapat meregenerasi air, udara, dan makanan di tempat (in situ) sehingga mengurangi ketergantungan pada Bumi dan pada akhirnya mencapai swasembada,” kata Bian Qiang, pakar di Pusat Astronaut China.
Tanaman Jadi Bagian Sistem Pendukung Kehidupan
Teknologi pendukung kehidupan ekologis terkendali memanfaatkan ekosistem buatan dalam lingkungan tertutup dan terkontrol.
Sistem tersebut dirancang untuk mendaur ulang serta meregenerasi udara, air, dan makanan yang dibutuhkan astronaut selama berada di orbit.
Dalam konsep tersebut, tanaman memiliki peran penting. Selain berpotensi menghasilkan makanan, tanaman dapat menjadi bagian dari proses biologis yang mendukung regenerasi sistem kehidupan.
Teknologi ini dipandang penting untuk misi antariksa berdurasi panjang karena pasokan dari Bumi membutuhkan pengiriman logistik secara berkala.
Gandum Berhasil Tumbuh hingga Menghasilkan Benih
Saat ini terdapat dua jenis unit penanaman yang beroperasi secara berkelanjutan di stasiun luar angkasa China.
Salah satunya menggunakan metode kultur substrat, sedangkan unit lainnya menerapkan teknologi aeroponik. Dalam sistem aeroponik, tanaman memperoleh nutrisi melalui kabut sehingga tidak membutuhkan media tanah seperti pada budi daya konvensional.
Kedua sistem tersebut memberikan data dan pengalaman bagi peneliti untuk mengembangkan sistem pendukung kehidupan yang memadukan proses daur ulang fisik, kimiawi, dan biologis.
Pengembangan aeroponik bahkan telah memasuki tahap lanjutan. Unit aeroponik yang lebih efisien dikirim ke luar angkasa pada 2025.
Sejak saat itu, tanaman gandum berhasil menyelesaikan satu siklus pertumbuhan penuh di orbit. Benih yang dihasilkan dari panen kemudian digunakan kembali untuk budi daya putaran kedua.
Tanaman gandum dari generasi berikutnya kini tumbuh dengan baik dan hampir memasuki masa panen.
Kemampuan tanaman menyelesaikan siklus pertumbuhan hingga menghasilkan benih di luar Bumi menjadi salah satu tahapan penting dalam pengembangan sistem produksi pangan yang lebih mandiri untuk misi antariksa jangka panjang.
China Incar Kebun Sayur di Bulan
Pengembangan teknologi tersebut juga mulai diarahkan untuk mendukung eksplorasi di luar orbit Bumi.
Bian mengatakan, seiring berkembangnya program eksplorasi Bulan, China berencana membangun ”kebun sayur di Bulan”.
Gagasan tersebut menunjukkan bagaimana eksperimen tanaman di Tiangong diposisikan sebagai bagian dari persiapan teknologi untuk misi eksplorasi jangka panjang.
Stasiun luar angkasa Tiangong, yang berarti ”Istana Surgawi” atau Heavenly Palace, kini memasuki era hunian manusia jangka panjang. Salah satu anggota awak Shenzhou-23 dijadwalkan menjalani masa tinggal selama satu tahun di orbit.
Di sisi lain, China terus menjalankan rencana misi pendaratan manusia di Bulan pada 2030.
Dari tanaman yang tumbuh di ruang terbatas Tiangong, eksperimen tersebut perlahan mengarah pada tantangan yang jauh lebih besar: mengembangkan sistem yang memungkinkan manusia menghasilkan sebagian kebutuhan hidupnya ketika berada jauh dari Bumi. (*)
Editor : Putut Ariyo