Tiongkok Bangun Pembangkit yang Simpan Listrik Surplus sebagai Panas untuk Stabilkan Jaringan

JawaPos • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 20:00 WIB

 

Proyek demonstrasi Ruitan di Shandong dirancang untuk mengurangi energi terbuang dan menstabilkan pasokan listrik jaringan / Foto: (SCMP)
Proyek demonstrasi Ruitan di Shandong dirancang untuk mengurangi energi terbuang dan menstabilkan pasokan listrik jaringan / Foto: (SCMP)

batampos - Tiongkok mulai membangun Ruitan, proyek demonstrasi pembangkit energi yang memanfaatkan listrik berlebih dari pembangkit batu bara untuk mengisi sistem penyimpanan panas berbasis garam cair.

Proyek yang berlokasi di Pembangkit Listrik Bajiao, Yantai, Provinsi Shandong, itu disebut menjadi proyek pertama di dunia dalam skala utilitas yang menggabungkan teknologi pembangkit CO₂ superkritis dengan penyimpanan energi termal berbasis garam cair.

Teknologi tersebut dirancang untuk mengurangi energi yang terbuang saat permintaan listrik rendah sekaligus membantu menstabilkan pasokan listrik ketika konsumsi meningkat.

Pembangunan proyek demonstrasi Ruitan dimulai pada 16 September dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Proyek ini memanfaatkan infrastruktur pembangkit batu bara yang sudah ada dengan menambahkan sistem penyimpanan panas.

Saat permintaan listrik rendah, kelebihan listrik digunakan untuk memanaskan garam cair. Ketika kebutuhan listrik meningkat, panas yang tersimpan tersebut digunakan kembali untuk menghasilkan listrik.

Dilansir dari South China Morning Post, Rabu (23/9/2026), tahap pertama Ruitan akan memiliki unit pembangkit CO₂ superkritis berkapasitas 50 megawatt (MW) serta sistem penyimpanan garam cair berkapasitas 100 MW atau 400 megawatt-jam (MWh).

Gunakan CO₂ Superkritis, Tak Perlu Uap

Teknologi Ruitan berbeda dari pembangkit termal konvensional yang membakar bahan bakar untuk memanaskan air hingga menghasilkan uap.

Dalam sistem CO₂ superkritis, karbon dioksida ditempatkan pada kondisi suhu dan tekanan tertentu sehingga memiliki karakteristik seperti gas sekaligus cairan. Fluida tersebut kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin dalam sistem tertutup dan dapat disirkulasikan kembali.

Menurut laporan Xinhua yang dikutip SCMP, teknologi CO₂ superkritis berpotensi membuat pembangkit berukuran lebih kecil, tidak membutuhkan air, lebih efisien, serta menghasilkan emisi karbon lebih rendah.

Kemampuan pengaturan bebannya juga diklaim lebih cepat, dengan laju penyesuaian hingga empat kali lipat dibandingkan unit pembangkit batu bara tradisional.

Sumber panas yang digunakan pun tidak harus berasal dari batu bara. Teknologi ini dapat memanfaatkan energi surya, panas bumi hingga panas buangan industri.

Terinspirasi Proyek Chaotan One

Pengembangan Ruitan mengikuti keberhasilan Chaotan One di Guizhou yang mulai beroperasi secara komersial pada Desember 2025.

Proyek tersebut memanfaatkan panas buangan dari industri baja dan menggunakan dua unit CO₂ superkritis dengan kapasitas masing-masing 15 MW.

Huang Yanping, ilmuwan kepala China National Nuclear Corporation (CNNC) sekaligus perancang utama Chaotan One, menyebut teknologi tersebut sebagai teknologi konversi termoelektrik yang inovatif.

Huang menjelaskan, prinsip pembangkit konvensional pada dasarnya mengandalkan proses seperti "merebus air", yakni mengubah air menjadi uap untuk menggerakkan turbin.

Sementara itu, dalam sistem CO₂ superkritis, tekanan dan suhu tertentu membuat CO₂ memiliki kepadatan tinggi seperti cairan, tetapi tetap dapat mengalir seperti gas. Kondisi tersebut memungkinkan sistem bekerja dengan hambatan aliran yang lebih kecil.

Listrik Surplus Disimpan sebagai Panas

Pada proyek Ruitan, teknologi CO₂ superkritis dipadukan dengan penyimpanan energi berbasis garam cair.

Berbeda dari baterai yang menyimpan energi dalam bentuk kimia, sistem ini menyimpan energi dalam bentuk panas di dalam tangki. Ketika listrik dibutuhkan, panas tersebut digunakan untuk menghasilkan listrik kembali melalui unit pembangkit.

Penyimpanan energi termal seperti ini dinilai sesuai untuk aplikasi berskala besar, sedangkan baterai memiliki keunggulan dalam penggunaan yang lebih fleksibel, termasuk untuk kebutuhan bergerak.

Penggabungan kedua teknologi tersebut juga membuka peluang penggunaan CO₂ superkritis di luar pemanfaatan panas buangan.

Huang mengatakan teknologi pembangkitan listrik dengan CO₂ superkritis dapat diintegrasikan dengan berbagai sumber panas untuk membentuk sistem pembangkitan listrik yang lebih luas, termasuk pembangkit listrik tenaga surya termal, pemulihan panas buangan dan penyimpanan energi.

Arah pengembangan tersebut telah terlihat dalam proyek lain. CNNC meluncurkan proyek demonstrasi yang menggabungkan penyimpanan energi garam cair dan pembangkitan CO₂ superkritis pada 2024, dengan target demonstrasi pada 2028.

Di Tibet, teknologi penyimpanan garam cair juga diterapkan pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terkonsentrasi (PLTS) Dangxiong berkapasitas 50 MW yang ditargetkan selesai pada 2027.

Rangkaian proyek tersebut menunjukkan bahwa penyimpanan panas dan teknologi turbin berbasis CO₂ superkritis mulai diuji untuk berbagai sumber energi, mulai dari panas industri hingga energi surya.(*)

Editor : Cipi Ckandina
Bangun 100 Gudang Pembangkit listrik Ruitan tiongkok listrik