Presiden Iran Tantang Balik Trump, Syarat Pembukaan Selat Hormuz Jadi Taruhan

jpg • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 14:01 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menunjukkan foto Ayatollah Ali Khamenei di mimbar sidang umum PBB. (AP Photos via Euronews)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menunjukkan foto Ayatollah Ali Khamenei di mimbar sidang umum PBB. (AP Photos via Euronews)

batampos- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tidak akan tunduk pada tekanan Amerika Serikat. Namun, ia tetap membuka peluang dialog dengan pemerintahan Presiden Donald Trump dengan satu syarat utama: negosiasi harus berlangsung tanpa ancaman dan tekanan.

Di tengah ketegangan tersebut, Iran juga mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan sejumlah tuntutan, termasuk penghentian perang dan tindakan militer Amerika Serikat, pencabutan blokade laut, serta penghentian tekanan ekonomi.

Sikap itu disampaikan Pezeshkian dalam pidatonya pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Rabu (23/9). Pidato tersebut menjadi salah satu penampilan internasional penting Pezeshkian sejak pecahnya perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Pezeshkian menyampaikan dua pesan sekaligus. Di satu sisi, ia menolak tekanan Washington. Di sisi lain, ia menyatakan Iran masih membuka jalur diplomasi selama proses tersebut tidak menggunakan ancaman.

"Kami siap untuk dialog, diplomasi, dan negosiasi, tetapi tanpa bahasa kekuatan," kata Pezeshkian, seperti dikutip The Guardian.

Pertemuan Tiga Jam AS-Iran

Sinyal diplomasi tersebut muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner di sela-sela Sidang Umum PBB.

Pertemuan yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut dilakukan melalui mediasi Qatar. Pihak Amerika Serikat menggambarkan pertemuan itu sebagai konstruktif dan produktif, sementara Iran mengonfirmasi adanya pertemuan tetapi menegaskan posisi Tehran tidak berubah.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan pertemuan tersebut digunakan untuk menyampaikan sejumlah tuntutan Iran kepada Amerika Serikat.

Di antaranya adalah penghentian perang, penghentian tindakan agresif AS, pencabutan blokade laut, penghentian tekanan ekonomi, serta pembebasan aset Iran.

"Interaksi yang terjadi dengan pihak Amerika adalah melalui mediasi Qatar," ujar Baghaei.

Dengan demikian, pertemuan tiga jam tersebut belum menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Perkembangan pada 24 September juga menunjukkan Washington dan Tehran masih berbeda mengenai cara mengakhiri perang dan persoalan blokade.

Selat Hormuz Jadi Kunci

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling penting dalam tarik-ulur diplomasi tersebut.

Jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu merupakan jalur penting bagi pengiriman energi dunia. Pembatasan lalu lintas di kawasan tersebut telah menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan dan harga energi global.

Iran menyatakan siap membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu sekitar tujuh hari jika Amerika Serikat mengambil langkah untuk mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Pernyataan tersebut disampaikan pejabat senior Iran dan menjadi bagian dari pesan diplomatik Tehran menjelang pertemuan di New York.

The Guardian juga melaporkan Iran telah menetapkan tujuh prasyarat sebelum kembali ke proses perundingan. Dalam perkembangan terbaru, Tehran menyatakan Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam waktu tujuh hari apabila persyaratan tersebut dipenuhi.

Persoalan lain yang turut dibahas adalah mekanisme pelayaran di selat tersebut. Salah satu opsi yang dilaporkan adalah penggunaan jalur yang memasuki wilayah perairan Iran dan berada di bawah pengaturan Iran, bukan Oman.

Pezeshkian Bantah Iran Negara Teroris

Dalam pidatonya di PBB, Pezeshkian juga membantah tuduhan bahwa Iran merupakan pihak yang melakukan terorisme.

Ia justru menuduh Amerika Serikat melakukan tindakan yang disebutnya sebagai terorisme terhadap Iran. Pezeshkian menunjukkan foto Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta anak-anak sekolah yang menurutnya menjadi korban pada awal konflik.

"Kami hanya membela diri. Kami bukan teroris," kata Pezeshkian.

Ia juga menegaskan Iran memiliki hak untuk menjalankan program nuklir sipil secara damai dan menyatakan negaranya tidak menginginkan senjata nuklir.

Pernyataan tersebut merupakan bagian dari upaya Tehran menyampaikan versinya mengenai konflik kepada komunitas internasional melalui forum PBB.

Sikap Keras di Dalam Pemerintahan Iran

Di tengah terbukanya kembali jalur komunikasi dengan Washington, sikap di dalam pemerintahan Iran tidak sepenuhnya seragam.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menolak menyebut pertemuan Araghchi dengan pihak Amerika sebagai sebuah negosiasi.

Menurut Rezaei, Iran telah menyampaikan sejumlah persyaratan. Selama persyaratan tersebut belum dipenuhi, kata dia, Selat Hormuz tidak akan dibuka dan negosiasi tidak akan berlangsung.

Sikap keras tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan dengan Washington masih menghadapi tantangan dari dalam negeri Iran. Pertemuan Araghchi-Witkoff bahkan mendapat sorotan dari kelompok garis keras Iran yang menilai pemerintah terlalu membuka ruang kepada Amerika Serikat.

Tekanan Ekonomi dan Penerbangan

Tekanan terhadap Iran juga berlangsung di sektor ekonomi. Sanksi dan blokade laut AS disebut menghambat kemampuan Iran mengekspor minyak dan memperoleh devisa.

Sektor penerbangan sipil Iran turut menghadapi ancaman akibat potensi sanksi sekunder Amerika Serikat terhadap pihak yang berhubungan dengan armada penerbangan Iran.

Pemerintah Iran kemudian melakukan pembicaraan dengan sejumlah negara tetangga untuk mempertahankan jalur penerbangan sipilnya. Situasi tersebut menambah tekanan terhadap Tehran di tengah berlangsungnya konflik.

Namun, pertemuan tiga jam antara Araghchi dan Witkoff menunjukkan jalur komunikasi Washington-Tehran belum sepenuhnya tertutup. Kedua pihak masih memiliki ruang untuk melanjutkan pembicaraan, meski persoalan perang, blokade, aset Iran, dan masa depan Selat Hormuz belum menemukan titik temu. (*)

Editor : Jamil Qasim
Masoud Pezeshkian Teheran